| Budi Rahardjo Weblog | |||||||||||
|
About
Subscribe
Links
|
Fri, 18 May 2007 Apa alasan dibentuknya sebuah program studi? Saat ini sedang ada diskusi mengenai program studi baru di fakultas atau school kami. Banyak usulan yang muncul, akan tetapi nampaknya sang penggagas kurang memahami mengapa program studi tersebut perlu dibuat. Kebanyakan yang saya lihat, program studi disusun karena interest (kesenangan, minat) dari dosen sang penggagas. Dia tidak melihat adanya kebutuhan di industri atau lapangan pekerjaan dari lulusan program studi tersebut? Bukankah semestinya para stakeholder juga dilibatkan dalam pengembangan ini? Siapakah stakeholder ini? Usulan agar lulusan membuat lapangan pekerjaan sendiri juga baik, namun ini jangan hanya sekedar di mulut saja. Jika memang ini yang diusulkan, harus diprogramkan juga. Mana programnya? Perlu diingat bahwa entrepreneurship itu bukan sesuatu yang mudah. Tidak banyak orang yang berjiwa entrepreneur dan memang tidak semua orang harus jadi entrepreneur. Ada lagi penggagas yang mengambil contoh dari luar negeri, tetapi lupa menyesuaikannya dengan kondisi di Indonesia. Adakah kekhasan atau kekuatan dari Indonesia? Bagaimana dengan kelemahan? Kita tidak harus sama persis dengan di luar negeri. Bahkan, justru keunikan kita ini yang menjadi daya tarik. Sebetulnya apa yang Anda inginkan dari lulusan program studi tersebut? Mereka sebagai tukang? Pekerja? Agen perubahan? Atau apa? Sekadar paham sebuah ilmu saja tidak cukup. Mudah-mudahan kami, kita, Anda tidak salah langkah dalam membuat program studi sehingga menyesatkan banyak pihak, khususnya mahasiswa. Tue, 24 Apr 2007
Menggadaikan harga diri dosen dengan Rp 10.000,-
Baru-baru ini ada program baru di ITB, yaitu adanya uang makan untuk dosen (dan karyawan?). Uang makan ini besarnya adalah Rp 10000,-/hari. Dia dapat diambil dengan cara mengisi daftar hadir. Saya tidak tahu dengan Anda, tapi bagi saya ada beberapa masalah dengan program ini. Masalah pertama adalah soal daftar hadir dosen. Wah, ini masalah yang sangat sakral di dunia perguruan tinggi. Entah sadar atau tidak, "big brother" is watching you. Saya tidak tahu apakah pemantauan dosen ini by design atau by accident? Mengapa harus mengisi daftar hadir? Saya masih berpendapat bahwa dosen itu bukan seperti pegawai harian yang kerja 9-to-5, tetapi kerja penuh. Daftar hadir harian hanya sekedar mencatat kerja di tempat saja. Bagaimana dengan kerja yang dilakukan malam hari? Di luar jam kerja? (Misalnya hari Minggu, hari libur, dan seterusnya.) Apakah memang dosen didesain untuk berhenti bekerja di luar jam kerja? Ini ..., lagi-lagi, seperti robot. Jika memang idenya adalah untuk memberikan uang makan, mengapat tidak diberikan uang makan begitu saja? Cara yang ada saat ini, memberikan uang makan dengan basis daftar hadir menurut saya sangat tidak efisien. Mencatat, mendata, memproses daftar hadir, mengasosiasikan dengan jumlah uangnya, mendistribusikan, dan seterusnya sangat repot. Ada dosen yang datang 15 hari, 16 hari, 17 hari, 18 hari, 19,5 hari (hah?), dan seterusnya. Bagaimana dengan yang tugas ke luar kota? Harus dibuatkan surat tugasnya, tanda tangan yang memberi tugas (Dekan?) kemudian surat ini diteruskan ke admin yang mengurusi uang makan. (Eh, apakah ada dosen yang mau ngurus surat seperti ini HANYA UNTUK Rp 10.000,-???) Dan seterusnya dan seterusnya. Waktu dan atensi dari staf terbuang hanya untuk mengurusi administratif Rp 10ribuan. Ada cara yang lebih elegan (dan lebih canggih - waaahhh) untuk mengimplementasikan hal ini. Misalnya, makan siang disediakan di kantin / kafetaria. Dosen datang ke sana dengan menggunakan kartu tanda pengenal (yang katanya akan menggunakan smartcard atau RFid). Proses administratif, pendataan, dan seterusnya sudah diotomatisasi. Tidak perlu menghabiskan sumber daya (resources) untuk hal-hal yang kecil seperi ini. Oh ya, metoda seperti ini sudah banyak dilakukan di beberapa perusahaan di Indonesia. Setidaknya, saya sudah pernah menggunakan cara ini ketika mengerjakan sebuah kerjaan di perusahan tersebut. Maksudnya, ini bukan impian di siang bolong. Ada hal lain lagi. Jumlahnya adalah Rp 10.000,-/hari. Ini serius? Atau dolanan. Maaf, apakah ada dosen ITB yang makan Rp 10.000,-/hari? Ya dananya hanya ada segitu, pak Budi. Kenapa pak Budi protes sih? Ya saya sih hanya ingin tahu saja. Kalau memang demikian ya memang demikian. Ya kalau memang harga dosen memang hanya segitu, ya penghargaannya memang segitu. Jadi ... kalau ingin memantau dosen, cukup lemparkan uang Rp 10.000,- saja. Sun, 14 Jan 2007
Layanan Internet Indonesia
Situs blog-blog saya (kecual yang ini) hampir semuanya menggunakan layanan blog dari luar negeri. Blog saya yang populer rahard.wordpress.com menggunakan layanan dari luar negeri, demikian pula yang Mr. GBT. Waaahhh... Sebetulnya bukannya tidak ada penyedia layanan seperti itu di Indonesia. Hanya saja (1) belum terkenal, (2) tidak terkenal, (3) layanan buruk. Jadi, orang tetap lebih memilih layanan di luar negeri. Akibatnya ketergantungan kepada bandwidth luar negeri masih tetap besar. Nampaknya saya harus lebih sering menulis di blog ini ya? Mungkin blog ini harus saya perbaharui dengan software yang memiliki fitur untuk komentar. Ah, banyak sekali yang harus dikerjakan. Belum ada waktu nih ...
Masalah Updating Blogger
Ternyata update membutuhkan waktu yang cukup lama. Mungkin ini disebabkan saya sudah terlanjur banyak menulis blog di sana. Entahlah. Kalau hanya itu saja sih tidak masalah. Sekarang masalahnya adalah halaman agregator blog saya (PlanetGBT) menjadi kacau balau tampilannya. Ahhh... Tapi tidak apa-apa. Nanti kalau sudah ada tulisan blog yang lebih baru maka halaman tersebut akan terdesak ke bawah dan hilang dari tampilan. Jadi, banyak-banyak menulis saja? Ha ha ha. Thu, 19 Oct 2006
Lalu Lintas Internet Indonesia
Salah satu topik yang sering keluar dalam diskusi di berbagai milis dan pertemuan di darat adalah padatnya lalu lintas internet Indonesia yang ke luar negeri. Hampir semua pengguna Internet Indonesia memiliki alamat email yahoo atau gmail. Yahoo Messanger (YM) juga merupakan aplikasi yang paling populer di Indonesia. Padahal semua ini menggunakan jaringan ke luar negeri. Sebetulnya ada banyak layanan internet di Indonesia, akan tetapi layanan Indonesia ini kurang populer. Opini saya sih mengatakan bahwa layanan buatan Indonesia ini kurang populer karena dikelola asal jalan. Pengelola tidak memiliki obsesi seperti di luar sana. Kalau layanan down, dibiarkan lama. Kalau di luar negeri, pemberi layanan juga menggunakan layanan tersebut sehingga kalau layanan tidak berfungsi mereka ikut merasakannya. Eat your own dog food adalah istilah yang sering digunakan. Nah, dalam rangka menyemarakkan content dalam negeri yang menggunakan infrastruktur dalam negeri, maka saya mulai aktif kembali menghidupkan blog ini. Blog ini diletakkan di dalam kampus ITB. Mudah-mudahan aksesnya tidak terlalu lambat. Selamat menikmati. Tadi pagi, ketika kuliah Konsep Teknologi, saya mencoba memotivasi mahasiswa untuk mengejar cita-cita (dreams). Asal mulanya sih kuliah berkisar soal desain. Saya ceritakan bagaimana proses pencarian solusi yang dilakukan oleh seorang engineer. Nah, salah satu proses yang harus dilalui adalah pencarian solusi, yang notabene adalah mencari ide. Bagaimana kita memperoleh ide? Saya tampilkan sebuah buku, "How to Get Ideas." (Judul lengkapnya lupa karena saya tinggal. Nanti saya lengkapi.) Ada bermacam-macam caranya. Ada yang mulai dari mengumpulkan detail tentang masalah yang dihadapi, kemudian ... lupakan semua itu. Nanti ide akan muncul sendiri. (Ah, yang bener?) Wah, ceritanya bisa menjadi satu blog entry tersendiri. (Lain kali ya?) Salah satu heuristics untuk mencari solusi adalah vision. Pada saat itulah saya tampilkan film tentang Visi NTT Docomo dan awal film (10 menit pertama) mengenai asal mulanya Silicon Valley. Kemudian saya stop dan ajak diskusi. Sayangnya waktu diskusi kurang panjang karena kelas sudah harus selesai. Yah, kita lanjutkan di kelas berikutnya. Pada intinya saya ingin memotivasi mahasiswa. Reach your dreams. Itu saja. Mereka jangan hanya duduk di bangku kelas, mendengarkan dosen (yang membosankan), akan tetapi tertarik untuk mencoba. Get your hands dirty dengan cara ngoprek. Siapa tahu ketemu (nggak sengaja? he he he) inovasi baru yang bisa dikembangkan menjadi start-up. Thu, 21 Sep 2006Hari ini saya datang kepagian. Jadwal mengajar jam 7 pagi, tapi saya sudah tiba di kampus jam 6:30. Kampus masih cukup sepi. Udara Bandung juga masih enak, sekitar 21 derajat Celsius. Sambil menunggu, buka notebook di pelataran dan akses Hotspot ITB. Asyik. Sebetulnya lebih enak kalau kuliah di luar begini daripada di dalam kelas ya. Sudah lama saya tidak mengupdate blog ini karena keasyikan dengan blog lain yang di luar kampus. Nggak apa-apa. Yang penting terus menulis. Ok, harus ke kelas untuk siap-siap. Thu, 12 Jan 2006Baru saja saya membaca artikel di Koran Tempo, Rabu, 11 Januari 2005, mengenai masalah ratusan pilot hengkang dari Garuda. Berikut ini cuplikannya.
Pemerintah menegur manajemen PT Garuda Indonesia agar memperhatikan masalah sumber daya manusia. Peringatan ini disampaikan karena sudah banyak pilot yang hengkang dari maskapai penerbangan pelat merah tersebut. Saya jadi ingat situasi di ITB yang tidak jauh berbeda. Ada beberapa dosen dan peneliti ITB yang ahirnya kabur ke luar negeri karena situasi di ITB/Indonesia yang tidak mendukung penelitian. Padahal, kita (Indonesia) sudah melakukan investasi di mereka dengan menyekolahkan ke luar negeri. Sekarang tinggal masanya panen. Eh, dibiarkan saja. Bahkan cenderung disia-sia. Sayang sekali hal ini dianggap remeh oleh sebagian besar orang. Biarin saja mereka kalau tidak mau di ITB. Emangnya ada tempat lain yang lebih bagus dari ITB? Sikap arogan seperti ini menurut saya kurang pantas. Justru seharusnya kita pro-aktif dalam melakukan rekrutmen orang-orang yang bagus dari ITB. Agak aneh kalau SDM tidak dilihat sebagai aset. Mungkin pengalaman dahulu, yang sudah-sudah, menunjukkan bahwa dosen bukan aset melainkan liability? Wed, 07 Dec 2005
Mendokumentasikan permasalahan dan solusi (di Indonesia)
Satu hal yang saya kagumi dari Amerika adalah keterbukaan mereka dalam menghadapi masalah dan mencari solusinya. Sebagai contoh, saat ini Amerika menghadapi permasalahan perginya talenta di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang bersifat high-tech. Jawara IT kembali ke kampung halaman mereka di India. Pakar bioteknologi dan life sciences terbang ke Singapura. Permasalahan-permasalahan ini riil karena sektor tersebut menyumbang banyak ke perekonomian Amerika. Analisa terhadap permasalahan tersebut dan (kadang-kadang) usulan solusinya dituangkan dalam berbagai buku. Ada buku .The World is Flat.-nya Thomas Friedman, ada konsep .Creative Class. dari Richard Florida, dan juga tulisan mengenai .Flight Capital. dari David Heenan. (Silahkan gunakan search engine untuk mencari informasi mengenai tulisan-gagasan-konsep tersebut.) Keberadaan buku-buku ini sangat menarik karena mereka mengkajinya secara runut dan terbuka. Ini yang tidak (belum?) saya temukan di Indonesia. Diskusi - atau lebih tepatnya debat kusir - mengenai permasalahan di Indonesia seringkali kita jumpai di forum-forum seminar atau surat kabar, akan tetapi tidak dalam konsep yang runut. Saya termasuk yang bersalah juga karena kurang mendokumentasikan konsep BHTV (Bandung High Tech Valley), sebagai salah satu usulan terhadap salah satu permasalahan di Indonesia. Masalah waktu yang mengganjal. Untuk menuliskan buku membutuhkan konsentrasi yang penuh. Saya tahu karena saya telah mencoba. Buku-buku - atau rencana buku - saya masih teronggok. Sebagian saya simpan di web agar bisa segera dibaca, dikomentari, dan diperbaiki. Mungkin suatu saat ada orang yang dapat mengumpulkan serpihan ide saya tersebut dan merangkainya menjadi sebuah buku yang lebih koheren. Mon, 05 Dec 2005
Riset? Lebih baik di Singapura saja
Seperti sudah saya tuliskan di tempat lain, life sciences di Singapura nampaknya makin meningkat. Bahkan peneliti yang hebat pun lebih memilih Singapura daripada Amerika. Mungkin sudah saatnya para peneliti Indonesia bekerjasama dengan Singapura untuk meneliti di Singapura saja? Apa boleh buat. Daripada di Indonesia tidak menjadi apa-apa, lebih baik bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Lihat berita terkait di sini: http://tomorrow.sg/archives/2005/12/03/biologists_pick_singapore_two_to.html Sun, 04 Dec 2005
Single Identity Number di Indonesia
Kelihatannya tujuan dari SIN adalah untuk menagih pajak, menagih pembayaran ini dan itu, pemilu dan sebagainya. Ini semua adalah hal-hal yang tidak menarik bagi warga, dan bahkan cenderung memberatkan. Di luar negeri pun orang sangat tidak menyukai yang namanya pajak. Filosofi dari SIN ini salah. Jika tujuannya untuk menyulitkan rakyat, siapa yang mau? Di Kanada, nomor yang digunakan adalah .Social Insurance Number.. Singkatannya boleh sama, SIN, akan tetapi maknanya lain. Nomor ini digunakan untuk kepentingan sosial, yaitu bagaimana menjamin tingkat sosial masyarakat. Bukan untuk dimintai duit. Nomor tersebut digunakan untuk menerima santunan dari pemerintah dan untuk menerima pengembalian pajak yang berlebihan. Itulah sebabnya warga dengan senang hati mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor tersebut. Meskipun ada sebagian yang membayar pajak lebih dari lainnya, secara umum lebih banyak orang yang menerima santunan dan kelebihan pajak. Jadi secara umum nomor SIN tersebut diterima oleh umum. Saya sendiri sempat merasakan di kedua sisi, yaitu sisi yang mendapat santunan (ketika masih menjadi mahasiswa kere) dan sisi yang harus membayar pajak lebih (karena telah bekerja dan berpenghasilan di atas garis kemiskinan). Kembali ke masalah implementasi SIN di Indonesia, jika filosofinya sudah salah, akan sulit diimplementasikan. Tue, 01 Nov 2005
World University Rankings 2005
The Times Higher Education Supplement telah mengeluarkan sebuah dokumen yang berjudul "World University Rankings 2005." Dokumen tersebut bisa diperoleh di sini: http://www.thes.co.uk/worldrankings/. Sayangnya ITB tidak termasuk dalam daftar tersebut. Apakah ITB seharusnya masuk ke daftar tersebut? Akankah? (Silahkan komentar di blog saya yang di rahard.modblog.com. Atau lebih spesifik lagi di sini.) Sat, 22 Oct 2005
Mahasiswa kurang responsif (babak 2)
Saya tanya "ada yang tidak mengerti?", tidak ada yang menjawab atau mengacungkan tangan. Kemudian saya tanya "ada yang mengerti?", juga tidak ada yang mengacungkan tangan. Jadi sebetulnya mengerti atau tidak? Ada dosen lain yang mengatakan bahwa ketika dia masuk ke kelas, dia dihadapkan dengan pandangan mata yang kosong. Menerawang. Dia berpendapat bahwa sekarang mahasiswa inginnya serba instan. Lepas dari itu semua, ternyata masalahnya lebih dalam lagi karena tidak sekedar di kelas saya saja. Berarti ini masalah yang lebih besar! Aduh! Mengenai soal slides power point, sebetulnya saya tidak menyukainya karena slides tersebut seringkali gagal menjadi alat bantu. (Ada banyak sudah yang membahas hal ini. Saya memiliki beberapa URL yang membahas soal ini.) Dengan kata lain, sebaiknya mungkin tidak menggunakan slide lagi. Tapi, ada atau tidak ada slide power point, tetap perkuliahan hanya membuat mahasiswa mendengar dan melihat. Ini tidak cukup! Saya ambil kutipan dar A. S. Neil:
Jadi, saya berharap bahwa mahasiswa lebih banyak "DO". Melakukan. Mengerjakan tugas. Praktek. Khususnya dalam kuliah pemrograman, tentunya harus banyak DO-nya karena kalau tidak, hanya menjadi teori semata. Padahal aspek skill juga tidak kalah pentingnya.
Praktek. Ini juga ternyata masalah karena institusi sehebat ITB pun tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk programming. Di dalam kelas saya saja ada sekitar 65 orang. Padahal ini kelas paralel - 4 kelas. Jadi total kebutuhan komputer - hanya untuk kelas programming saya saja - sudah mencapai 260 komputer!
Nah, lagi-lagi ini menjadi keluhan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa kita terlalu cengeng, kalau saya bandingkan dengan mahasiswa di India dan China. Mereka (mahasiswa di India dan China) lebih miskin lagi dan fasilitas lebih tidak memadai. Tapi, toh mereka tetap menjadi world class juga dengan jumlah yang tidak sedikit. Artinya kekurangan fasilitas ini tidak membuat mereka gagal. Bahkan kekurangan ini lebih memacu mereka.
Saya masih ingat ketika belajar komputer saya harus membeli majalah bekas di jalan Cikapundung (di Bandung). Di sana banyak dijual majalah bekas yang halaman depannya sudah digunting. Sekarang, di toko buku sudah banyak majalah dan buku yang membahas masalah komputer. Kemudahan ini mungkin malah membuat mahasiswa menjadi lebih manja lagi?
Saya melihat bahwa mahasiswa kita kurang memiliki "sense of urgency". Tidak ada dorongan yang kuat. No passion. Mereka masih tidak melihat adanya ancaman dari lulusan sekolah lain, khususnya lulusan dari luar negeri. Mereka tidak tahu bahwa India menghasilkan 70 ribu lulusan yang terkait dengan IT setiap tahunnya. Ya benar, 70000! Lulusan ITB yang terkait dengan IT mungkin hanya 300-an setiap tahunnya. Dibutuhkan 200 ITB hanya untuk menghasilkan jumlah yang sama. Kita belum bicara mengenai kualitas.
Sense of urgency ini perlu ditumbuhkan. Mahasiswa harus tahu bahwa pekerjaan mereka bisa diambil oleh lulusan India! Serius! Beberapa waktu yang lalu saya mendengar dari seorang kawan yang mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan seorang lulusan perguruan tinggi di India yang mau dibayar Rp 700 ribu sebagai programmer di Indonesia. Mana ada lulusan kita yang mau dibayar segitu? Lebih jauh lagi, kualitas lulusan India yang murah tersebut seringkali lebih bagus. Perusahaan akan memilih orang India daripada orang setempat. Ini penting!
Ayo kita lebih serius!
Mahasiswa Kurang Responsif?
Saya tidak tahu apakah mereka tidak mengerti apa yang saya ajarkan atau hanya malas / malu menjawab saja. Hal-hal yang saya tanyakan adalah hal yang sederhana dalam pemrograman yang sepantasnya mudah mereka ketahui. Paling tidak, hal tersebut diketahui oleh mahasiswa universitas lain atau bahkan siswa SMK (STM) yang sedikit kursus pemrograman. Dugaan saya adalah mereka bingung dengan apa yang saya tanyakan. Artinya ini menyedihkan. Mereka tidak paham apa yang saya ajarkan. Waduh! Bagaimana mereka akan kompetisi dengan saingan mereka (lulusan India, misalnya)?
Bagaimana mengubah hal ini? Apakah teknik pengajaran saya perlu berubah? (Mungkin mahasiswanya terlalu banyak disuapi sehingga malas berusaha sendiri? Artinya saya harus lebih keras lagi terhadap mereka.) Atau memang kualitas mahasiswa menurun? Apakah dosen lain merasakan hal ini?
Mengapa ada download musik gratis
Ada seseorang di slashdot yang menjabarkan lebih jauh lagi mengapa artis / band sebetulnya suka agar musiknya didownload secara gratis dari Internet. Menurut dia, pendapatan artis dari penjualan CD / kaset itu tidak seberapa. (Saya cek dengan beberapa rekan di dunia musik, memang benar demikian.) Pendapatan artis yang besar justru datang dari:
Link di slashdot:
http://yro.slashdot.org/article.pl?sid=05/10/02/2056210&tid=141&tid=17
Kualitas SDM Indonesia?
Kebanyakan mahasiswa terlalu berkutet pada kuliah sehingga ketika lulus dia tidak mengerti hal-hal yang di luar kuliah. Tentu saja kalau baru lulus (fresh graduate), yang bersangkutan tidak punya pengalaman. Bukan itu yang saya maksud. Maksud saya, mahasiswa tersebut tidak menyempatkan diri untuk terlibat dalam hal-hal di luar kuliah, baik yang bersifat profesi maupun sosial. Mereka tidak mencoba ngoprek komputer sendiri. Contohnya, ketika ditanya bahasa pemrograman yang dikuasai, jawabannya adalah Pascal ketika masih kuliah. Okay, ada yang menjawab Delphi atau VB, tapi itu pun hanya untuk tugas kuliah.
Dari sisi sosial, hampir tidak ada yang terlibat dalam kegiatan di lingkungannya. Tidak ada kepedulian. Tidak ada yang terlibat ngurusi RT dalam kegiatan vaksinasi, 17-Agustus-an, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Padahal masyarakat sangat mengharapkan adanya kontribusi mahasiswa. Mahasiswa kan semestinya masih punya idealisme. Mungkin masyarakat sekarang sudah tidak peduli (numb) dan tidak berharap banyak dari mahasiswa. Mereka melihat kondisi yang ada saat ini dan menyerah berharap. Bayangkan, berharap saja sudah menyerah. Atau, mungkin saja kebetulan saya tidak terlalu terekspos dengan kegiatan mahasiswa yang positif. Jika demikian, maafkan saya.
Ketika saya tanya "apa prestasi anda atau karya anda yang bisa anda banggakan?", kebanyakan bengong. Tentu saja saya tidak mengharapkan mereka melakukan sesuatu yang sangat hebat - extra ordinary. Poin saya adalah, saya ingin mereka punya mimpi, kebanggaan, dan percaya diri bahwa mereka bisa berkarya dan bermanfaat. Untuk anda, para pembaca blog ini, apa karya anda atau prestasi anda yang bisa anda banggakan?
Sebagai seorang pendidik (or at least, that's what I claimed to be), saya melihat kelemahan ini pada mahasiswa saya juga. Saya sudah berusaha mengungkap sisi lain dari sekedar kuliah saja kepada mahasiswa saya. Bahkan, saya mengajari mahasiswa saya untuk lebih baik mendapat nilai "B" dan bermanfaat bagi masyarakat daripada mendapat nilai "A" akan tetapi tidak manfaat bagi masyarakat. (Mudah-mudahan sekolah / perguruan tinggi tidak marah ke saya.) Salah satu alasan saya untuk menjadi dosen adalah adanya kesempatan untuk membentuk pola pikir mahasiswa (to shape these young minds). Nampaknya saya belum berhasil.
Kemana masa depan Indonesia (dan dunia) akan dibawa? Maklum, saya berharap di masa tua nanti tumpuan saya (dan masyarakat?) adalah pada anak muda saat ini. Jika mereka tidak dibentuk saat ini, setelah dewasa akan lebih susah diubah. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Toh saya sendiri juga belum bisa menghasilkan SDM yang bisa dibanggakan. (If you're my student, make me proud by: bermanfaat bagi masyarakat.)
Atau mungkin cara berpikir saya salah?
Diambil dari:
http://rahard.modblog.com/?show=blogview&blog_id=727502
Books, Sofa, and Coffee
This is the second time I went to that coffee shop in Riau street, Bandung. (I won't name the place, since it might be considered advertising.) As usual, I brought a book (usually a couple of books) with me. The place was nice and cozy. I wen straight to the middle room, turned right to a room which has three nice sofa-like chairs. I ordered a hot latte, slouched and started to read my book. This was just perfect.
And then, it happened again. I just couldn't continue reading. My imagination ran wild. This time I was thinking about writing a book on the art of programming. Or, a book on the real life of programmers. I am teaching a course on programming this term. Actually, the first class is going to be this coming Tuesday. I just want to teach the real thing, not just the theory. Okay, I will do that.
I tried to cotinue reading. Again, I just couldn't do it. Now, I was thinking about something else. I was thinking about (advanced) physics, about Fermi-Pasta-Ulam problem. No, I don't understand the problem. In fact, that was exactly what I was thinking; how (what should I do) if I want to learn all of these advanced topics? This topic came about after reading (parts of) John Brockman (ed.), "The Next Fifty Years: Science in the first half of the twenty-first century." Boy, I was so lost.
Then another topic came, and another, and another ...
Thirty (or more) minutes later, I finished my latte without actually making progress reading the book. Paid the bill and went back home. I have to take train(s) to finish the book. Sofa and coffee are just too much.
[Read my "trains and books" rant in my other blog:
http://rahard.modblog.com
It's in Bahasa Indonesia, though.]
Kereta Api dan Buku
Perjalanan Bandung - Jakarta bisa dilakukan dengan menggunakan pesawat, kereta api, dan mobil (planes, trains, and automobiles). Dari ketiga alat transportasi tersebut, kereta api merupakan pilihan utama saya. Sebetulnya dari segi waktu, kereta api mungkin yang membutuhkan waktu paling lama untuk mencapai Jakarta (3 jam). Sekarang sudah ada jalan tol Cipularang yang membuat perjalanan dengan mobil menjadi lebih singkat (meskipun masih macet di tol Pondok Gede dan di jalan dalam kota Jakarta). Tapi saya tetap menyukai kereta api karena saya bisa tidur dengan nyaman. Atau ... membaca buku.
Sebetulnya kultur membaca buku kutur orang Indonesia. Di kereta api, yang lazim dilakukan oleh orang Indonesia adalah tidur, makan, atau ngobrol. Kalaupun membaca, yang dibaca adalah koran atau majalah. Jarang orang Indonesia yang membaca buku di kereta api. Ini berbeda dengan orang asing yang cenderung membaca (meskipun biasanya buku novel).
Waktu luang di kereta api ini memberikan saya kesempatan untuk membaca buku. Mungkin lebih tepatnya adalah memaksa saya membaca. Saya habiskan 1 jam, 2 jam, atau bahkan pernah hampir seluruh perjalanan saya habiskan dengan membaca buku. Hasilnya, saya lebih produktif dalam membaca buku. Tumpukan buku yang harus saya baca memang masih bertambah - karena saya membeli buku terus - akan tetapi ada yang sudah bisa saya singkirkan dari tumpukan itu. Lumayan. Ada kemajuan.
Sayangnya buku yang bisa saya bawa ke kereta apa adalah buku yang memiliki ukuran tidak terlalu besar dan tebal. Buku teks terlalu berat untuk dibawa. Padahal kadang-kadang saya ingin membaca kembali buku teks tersebut sebelum mengajar. Akibatnya yang saya bawa biasanya buku yang berukuran kecil dan tipis, seperti buku saku saja. Mungkin ini justru membawa berkah karena saya terpaksa membawa buku dengan topik-topik yang berbeda-beda, mulai dari teknis, bisnis, agama, filsafat, dan sebagainya. Saya tidak lagi terpaku kepada buku teknis (umumnya tentang information security) saja. Wawasan menjadi lebih terbuka.
Terima kasih untuk Kereta Api dan Buku.
http://rahard.modblog.com/core.mod?show=blogview&blog_id=712531
Teaching programming to EE students
We already decided that it's object oriented and C++ is going to be used as the language. Walter Savitch's "Problem Solving in C++" is the textbook. There were a lot of discussion before we came to that decision. Unfortunately, I didn't make notes (and am to lazy to write them down). Every year I re-think about it. (Perhaps, it's time to write the arguments down?) Here's an issue that came my mind recently.
High vs low-level programming
UML or higher level "coding." This is great, but I am afraid that my students would not understand low level coding. Remember that they are EE, engineers. They are not computer scientists. They may have to work with devices with low level programming, such as (micro)controllers and stuff. That's why we picked C++. It's not the best language to teach programming, but it can go to low level or high level.
I was looking at Michael Lynn's presentation (on Cisco IOS shellcode) the other day. (It was a huge fiasco.) Many parts of the description have codes in assembly language. Do I have to teach assembly language to my students? (Perhaps in a "core ware-like" game? Suggestion?) How many of you still play (work) with assembly language? Should I even bother? They'll learn it themselves. (Then, what's the purpose of me teaching them programming if they can learn it themselves?)
The most important thing is I have to teach them the logic of programming. BTW, how do I test logic? I want to know if they have the "foundation of programming," but not language-specific (or even paradigm-specific). Should I test them with pseudo code? Flow chart? Stories?
Anyway ... I wish I am allowed to teach programming with perl :
Permasalahan Buku Teks di Indonesia
Sebagai dosen, saya perlu menceritakan permasalahan seputar pemilihan
buku teks. Mestinya dosen-dosen yang lain juga memiliki permasalahan
yang sama. Namun saya belum membaca diskusi mengenai hal ini.
Baik. Saya mulai saja.
Bahasa Indonesia vs Bahasa Inggris
Ada banyak alasan yang menyebabkan buku teks berbahasa Inggris lebih
menarik sehingga saya cenderung untuk menggunakan buku teks berbahasa
Inggris.
Akui saja. Buku teks dalam Bahasa Inggris pilihannya lebih banyak dan
(saat ini) kualitasnya lebih bagus dari buku teks dalam Bahasa Indonesia
(kalau ada). Jangan marah atau tersinggung. Mungkin di bidang anda berbeda
dengan bisa saya.
Dalam merancang kuliah, salah satu faktor yang saya perhatikan adalah
bahwa mahasiswa saya akan berkompetisi dengan rekannya di luar negeri.
Ada kemungkinan mereka akan melanjutkan sekolah (S2 dan S3) ke luar negeri,
atau bekerja di luar negeri.
Jika mereka menggunakan buku teks yang sama dengan yang digunakan oleh
rekannya di luar negeri, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk berbaur.
Saya mengalami hal ini. Buku teks yang digunakan ketika saya menjadi
mahasiswa S1 di ITB ternyata banyak yang sama dengan buku teks yang digunakan
di Canada waktu saya mengambil S2 dan S3. Hal ini ternyata mempermudah saya.
Buku teks yang sudah lazim digunakan di luar negeri tersebut sudah
teruji dengan baik (well tested) dan sudah dipikirkan masak-masak
(dari sisi pengajarannya).
Ada semacam jaminan bahwa akan lebih sukses jika menggunakan buku tersebut,
dibandingkan buku yang belum pernah teruji.
Namun penggunaan buku teks berbahasa Inggris ini memiliki banyak masalah.
Masalah yang pertama adalah mahasiswa cenderung lebih suka menggunakan
buku teks dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja karena kita hidup di Indonesia.
Tetapi, kalau saya ingat-ingat, ketika dulu menjadi mahasiswa S1 pun, saya
lebih menyukai buku teks dalam bahasa Inggris karena buku terjemahaan
yang ada pada masa itu sangat kacau terjemahannya sehingga membingungkan.
Sekarang mungkin sudah ada buku-buku terjemahaan dengan kualitas terjemahan
yang memadai sehingga mahasiswa memburu buku terjemahan tersebut.
Saya pernah mendapati mahasiswa saya menggunakan buku terjemahaan di kelas.
Tidak apa-apa tentunya. Hanya, ini fenomena menarik bagi saya.
Masalah kedua yang saya belum tahu solusinya adalah masalah HaKI.
Buku-buku teks asli yang berbahasa Inggris harganya terlalu mahal bagi
mahasiswa Indonesia. Belum banyak buku teks asli bahasa Inggris yang
dicetak di Indonesia, seperti yang dilakukan di India, sehingga harganya
bisa terjangkau. Hal ini menyebabkan hampir semua buku teks berbahasa
Inggris merupakan hasil fotocopy.
Tentu saja ini pelanggaran HaKI. Namun kita masih tutup mata dengan
dalih bahwa ini untuk kepentingan pendidikan. Tidak semudah itu, Bung!
Kita tidak bisa membiarkan hal seperti ini terus berkelanjutan.
Lantas harus bagaimana?
Saya memilih menggunakan buku teks dalam Bahasa Inggris.
Pada saat yang sama, saya mulai membuat tulisan (materi presentasi,
catatan, notes, diktat) untuk menggantikan buku teks tersebut.
Namun yang ini perlu waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya.
Selain itu, perlu selalu diingat mengapa membuat tulisan dalam bahasa
Indonesia tersebut supaya tidak salah.
Ingat bahwa harga buku yang mahal menjadi salah satu masalah.
Jadi kalau buku yang kita tulis ternyata tidak terjangkau juga,
percuma saja. Akan difotocopy juga. Salah sendiri.
... lain kali dilanjutkan kembali ...
Mengapa tidak ngotot berseteru
Keputusan saya untuk mengundurkan diri dari pengelolaan .ID sebetulnya sudah saya sampaikan tahun lalu di acara NiCE 2004. Jadi ini bukan keputusan yang mendadak. Namun memang saya tidak mau berseteru meskipun setelah saya teliti dokumen-dokumen yang saya miliki (beserta ahli hukum saya), kemungkinan menang adalah antara 80% sampai dengan 90%.
Ada dua hal penting yang mempengaruhi keputusan saya. Yang pertama adalah buku "Don't be sad" karangan Dr. 'Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA. Dalam buku ini banyak sekali mutiara yang disampaikan dengan cara yang menyentuh. Topik yang paling banyak saya baca adalah bagian tentang bersabar. Ternyata ini semua adalah ujian bagi saya untuk bersabar. Banyak contoh disampaikan di dalam buku tersebut mengenai kesabaran orang-orang besar. Meski mereka dihina (sangat menyakitkan), akan tetapi mereka tetap sabar dan cenderung memaafkan.
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripaa orang-orang yang bodoh." (al-A'raf [7]:199)
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah." (asy-Syura' [42]:40)
Ada sebuah hadits, "Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam bertempur. Sesungguhnya orang yang kuat ialah orang yang bisa mengontrol dirinya ketika ia sedang marah."
Sebagian orang mengatakan bahwa dalam Injil dikatakan, "Maafkanlah tujuh kali orang yang sekali berbuat salah kepadamu."
Jadi sabar merupakan ujian terhadap diri saya sendiri. Untuk sementara ini saya merasa cukup berhasil. Saya menang terhadap diri saya sendiri. I won against myself. Mudah-mudahan bisa terus demikian.
Hal kedua yang menyebabkan saya mengambil keputusan untuk bersabar dan berkesan mengalah adalah film "Hero" yang dibintangi oleh Jet Li yang saya tonton bolak balik di kereta api Argo Gede yang mengantarkan saya ke Jakarta dan kembali ke Bandung. Saya akan ceritakan bagian dari film ini yang menyentuh saya. (Maaf jika menceritakan beberapa bagian dari film ini, bagi yang belum menonton.)
Dalam film ini dikisahkan para pendekar yang berjuang menurut keyakinan mereka. Dikisahkan para pendekar ini ingin membunuh raja Qin yang dikatakan lalim. Pada akhirnya ada seorang pendekar yang sadar bahwa raja Qin ini tidak boleh dibunuh demi kepentingan umat negara Cina. Sang pendekar ini mencoba meyakinkan rekan-rekannya akan hal tersebut. Akan tetapi banyak yang tidak mengerti. Akhirnya dua pendekar yang gagah perkasa mengerti.
Untuk meyakinkan pendekar lainnya dan juga Raja Qin, mereka rela mati. Mereka sebetulnya dapat membunuh raja tersebut, dan secara teknis memang raja tersebut sudah mereka kalahkan. Akan tetapi mereka tidak mementingkan ego pribadinya agar terkenal. Mereka justru berkesan mengalah. Orang akan melihat mereka kalah. Akan tetapi, bagi mereka yang penting adalah pesan mereka sampai.
Ada dua adegan dimana kedua pendekar itu mati yang sangat menyentuh hati saya (sampai mata basah). Salah satu pendekar rela mati ditangan kawannya untuk membuatnya mengerti. "Mengapa tidak kau tangkis pendangku?" tanya kawannya, yang terheran mengapa dia dibiarkan menusuk sang pendekar. "Karena mungkin ini adalah satu-satunya cara untuk membuatmu mengerti." Hanya untuk membuat pasangannya mengerti, dia rela mati. Sungguh suatu pengorbanan yang sangat besar. Demikian pula dengan satu pendekar lainnya. Dia menghadapi kematian dengan gagah berani. Saya ingin memiliki keteguhan hati dan kerendahan hati seperti mereka.
Anda harus menonton film "Hero" ini untuk mengerti apa yang saya maksudkan sehingga mengerti mengapa saya melakukan hal ini; tidak mau konfrontasi.
Doa dari seseorang yang didzalimi
Say NO to APJII!
At the end of 1997, I went back to Indonesia from my studies and work in Canada. The .ID domain management in Indonesia at that time was in a confusing state. Nobody wanted to manage it. Universitas Indonesia (UI) - the original maintainer - was in a fight with APJII (the Association of Indonesian ISP). In the end, IANA gave me a mandate to manage the .ID domain. Since then, I manage the .ID domain with open management. There are problems, but mostly minors. Until recently, when APJII (again) is trying to take over the .ID domain management from my team. Here's a short info to give you a head start. Short summary APJII (the association of ISP in Indonesia) is trying to takeover the .ID domain management in Indonesia. They have tried and will try everything to take over. Long description I've been managing the .ID domain since the end of 1997. At that time, nobody wanted to run the domain management. First of all, a brief description of how we run things. To run the .ID domain, I am assisted by several domain admins. Each of these domain admins is responsible for second level domains. For example, there is a domain admin for AC.ID, then there is also a different domain admin for CO.ID, etc. These domain admins are volunteered based. (No ne get paid, except for the CO.ID admin who is also helping the day to day operation.) All of this was done informally. I am personally responsible for everything. We use "IDNIC" as the name of our operation. There is a fee to register a domain, except for sch.id, go.id, and mil.id (which is allocated for schools, government, and military - they are free). Most of the domains are registered with one time fee, except for web.id which has a yearly fee. In the future we would like to implement a yearly fee to make sure that there are no dead domains (domains that are not used at all). Billing was outsourced to APJII (the association of Indonesian ISP). To serve the domain users better, we are now in the process of using registrar-registry, just like gTLDs. We would like to be the registry and stick with policy and backend. Whereas registrars are doing the business. To implement this concept we have to formalized the organization. We decided to create a formal entity, which consists of all the domain admins (the de facto operational). This organization is a non-profit oriented. We are in the process of discussing the by-laws publicly (through open mailing list). Now... the issues. APJII (the associations of ISP) feels that they are being left out. They insisted that they should be part of the registry (AND registrar). They do not like the registrar-registry concept. So, they sent mails.
The next letter was a threat to sue me. A couple of months ago, APJII have an election and new officials were announced. As part of the election process, they also have programme. To my disbelieve, one of the programme was to create an entity called IDNIC that manages IP numbers *AND* domain name. I have no doubt that they will send a letter to ICANN to redelegate that mandate to them. Since this is their internal organization issue, I could not (and would not) do anything. But I have to give you a warning. A few days ago, they went to the Government and asked the Gov to support APJII (or they use the name ID-NIC) as the domain management in Indonesia. Now, I am pretty sure APJII will send an email to IANA/ICANN as well, asking for a redelegation to them. Just to give everybody a head start.
Regards
Trend Progressive Rock Yang Lebih Mellow?
Saya ambil contoh. Dalam album Octavarium, Dream Theater mengusung lagu "The Answer Lies Within", sebuah lagu ballad yang lembut. Demikian pula Porcupine Tree menyajikan lagu "Lazarus". Itu hanya contoh-contoh saja. Dalam album mereka, paling sedikit, ada dua lagu yang lembut. Trend apa ini? Tentu saja penggemar band tersebut yang lebih menyukai musik keras mereka marah berat. Saya? Wah, saya justru senang dengan lagu-lagu lembut mereka. Langsung saya putar berulang kali. Peduli amat kata reviewer. Yang penting ... asyik mendengarkannya. Saya terpaksa menggunakan headphone untuk mendengarkannya karena (1) takut mengganggu orang yang bosan karena bolak-balik saya pasang lagu-lagu tersebut, (2) lebih nikmat mendengarkannya dengan keras (meskipun saya lebih suka mendengarkan melalui speakers), (3) tidak diganggu oleh "noise" lain. Sat, 11 Jun 2005
Microsoft Research Center in Indonesia?
I am glad that the idea of open a research center in Indonesia was brought up. I don't know who provided the information to our president, but I am glad that our president was bold enough to put the idea forward. First of all, this idea was not just came up one or two days ago. We have thought about this for quite a few years. In fact, in a presentation about BHTV (Bandung High Tech Valley) in 2000 (and updated in 2001), I suggested that we approach stable multinational tech companies to open their research centers in Bandung. (Presentation material is available in my web site at budi.insan.co.id/presentations. Search for the word "BHTV". If you can't find it, I'll mail it to you.) Multinational companies are needed in a tech region (such as Silicon Valley and their look-a-likes). Wired Magazine (in its July 2000 edition) did a survey of tech bility of area universities and research facilities to train skilled workers or develop new technologies the presence of established companies and multinationals to provide expertise and economic stability the population's entrepreneurial drive to start new ventures the availability of venture capital to ensure that the ideas make it to market regions in the world. They ranked the regions based on these four criteria:
Bandung was not in Wired's list, but I tried to measure Bandung against those criteria. We have most of them. The only ingredient that's still missing is "the presence of established companies and mutltinationals". I called these companies, the anchors! The idea of Microsoft Research Center in Indonesia (hopefully in Bandung, since I don't think it will be successful in other region) is definitely inline with BHTV plan. We won't stop with Microsoft. We'll go after other tech companies. Perhaps those who are in Biotech too. Or, we can ressurect "Bell Labs" in Indonesia? I would like to put an emphasize in research center, not just companies running business. It is good to have (established multinational) companies running business in the region, but it is not very useful since there's no market in Bandung itself (yet!). But Bandung has a great pool of talents. These research centers (companies) provide a buffer and place to work for new graduates (from tech universities, such as ITB). They are needed to shape these fresh talents. I use the word "shape", since these research centers provide real world high-tech culture (including work ethics) that are not given at universities. They will mold the talents into world class work force. This will benefit to the region and the world. (It's difficult to find well rounded talents.) Then, there's this question to answer: Can Indonesia (let me selfishly point to Bandung) provide the needed talents for these research centers? My bold answer: Yes! If not, I will work hard to provide you with the talents! If you (established multinational tech companies) committ to it, then I'll make sure I'll committ to it. How so? Let me give you a recent example. Recently, Google had a programming contest in Bangalore India. They called it "Google Code Jam." Do you know the winners of this event? The first winner, an Indonesian. The second winner, an Indonesian. Then the third, an Indian. I am not putting down Indians here. I have too many Indian friends to know their quality (excellent!). I just want to point out that we, Indonesians, are also good. Given the opportunity, we will excel. This is good for the (research) centers, by the way. Another resistance came from people who are against Microsoft. They are afraid that this movement will kill open source movement in Indonesia. Well, let me assure you that open source initiatives (and of course free software movement) will still thrive in Indonesia. I consider myself to be an open source person (slightly slanted towards free software actually), although I don't have the time to code myself. (I still write [perl scripts] just for fun.) We hope that there are other research centers, not just Microsoft. Perhaps there's Apple Research Center (Bandung is well know for its artists and creativity), Intel Research Center (we have a complete Microelectronics lab here in Institut Teknologi Bandung, we have more than a dozen PhDs in Microelectronics), IBM Research Center (big Banks in Indonesia may need special machine from IBM), Biotech research center (there are pharmaceutical companies / factories in Bandung, and also Biotech research in ITB), and many more ... In short, I am happy that SBY has put forward the idea of Microsoft Research Center in Indonesia to Bill Gates. Let's make this happen. And let approach more companies... Budi Rahardjo, a BHTV evangelist - http://budi.paume.itb.ac.id Fri, 03 Jun 2005
Review: The Groove - mata telinga & hati
Seperti nama dari band ini, musik dari the groove memang nge-groove, mengingatkan saya musik tahun 80-an, dengan bass dan drum yang ... nge-groove sementara keyboard dan gitar melatar di belakang. Sementara itu mereka menggunakan dua vokal, satu wanita (Rieka) dan satu pria (Reza) yang saling melengkapi. Dalam bayangan saya, lagu-lagu mereka enak digunakan untuk live show di pub. Dugaan saya mereka memang band yang besar dari live show. Benarkah? entahlah. Namanya juga menduga. Album ini berisi 10 buah lagu. Lagu yang pertama kali saya kenal adalah lagu pertama (di kaset), yang berjudul "tentang kita". Lama kelamaan lagu-lagu yang lain juga saya suka. Tapi kelihatannya lagu yang paling saya sukai adalah lagu yang dikarang oleh Rieka Roslan, sang penyanyi, seperti "khayalan" dan seterusnya. Pokoknya sih. Kalau melihat tanda-tandanya, ada kemungkinan saya beli juga album mereka yang lain. Mudah-mudahan the groove selalu nge-groove. Thu, 02 Jun 2005
Untuk mahasiswa: dari pada nganggur, kerja untuk Google
Google Summer of Code
The Summer of Code is Google's program designed to introduce students to the world of Open Source Software Development. Selamat coding ... Sat, 28 May 2005
Sharing Vision: Regulasi Cashless dan Regulasi Broadband
Regulasi pertama yang kami bahas adalah regulasi yang terkait dengan pembayaran cashless, yaitu uang yang bentuknya bukan kertas (cash) Kami mendapat tamu dari Bank Indonesia, yaitu pak Muhammad Ishak yang menjelaskan prinsip-prinsip atau arahan yang dipegang oleh BI. Dalam presentasi ini saya baru mengetahui bahwa sebetulnya BI tidak meng-encourage keberadaan kartu kredit, karena ini merupakan sebuah kredit tanpa jaminan yang menimbulkan banyak masalah. Dan memang banyak masalah yang terkait dengan kartu kredit. Bahkan saat ini ada beberapa usaha yang fokus kepada penagihan (secara paksa). Ini tidak sesuai dengan etika Bangsa Indonesia. Namun dipahami bahwa alat pembayaran elektronik (dalam berbagai bentuk, seperti kartu kredit, e-wallet, pulsa, dan sejenisnya) tidak dapat dihindari. Bahkan, sebetulnya alternatif alat bayar ini bagus untuk mengurangi ketergantungan kepada uang kertas yang ternyata mahal harganya. Jadi secara prinsip, BI mendukung adanya cashless payment. Regulasi kedua yang saya bahas adalah regulasi broadband. Permasalahan yang kita hadapi adalah apakah memang broadband perlu diregulasi? Pasalnya, keberadaan broadband memungkinkan layanan yang dulunya terpisah (suara, data, dan broadcasting) disatukan dengan menggunakan layanan broadband. Ketiga layanan tersebut dulunya diatur dalam aturan yang berbeda. Yang menarik mengenai regulasi ini, konteks kata "regulasi" ternyata berbeda antara Indonesia dan luar negeri. Kalau di Indonesia, regulasi ini bermakna pembatasan (tidak boleh ini itu, yang boleh hanya ini / perusahaan ini). Kalau di luar negeri, regulasi lebih ke arah mewajibkan penyedia jasa untuk memberikan (menyediakan) layanan broadband kepada masyarakat. Jadi ini sisi lain dari regulasi (yang nampaknya lebih pro kepada masyarakat). Menarik bukan. Kedua bahasan regulasi tersebut membuat saya puyeng..., karena ini merupakan pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan. (Biasanya regulator akan kembali ke saya untuk meminta masukan. Wah, saya masih perlu banyak belajar.) Tue, 24 May 2005
Kerja di hari libur dan beberapa update
In any case, membuat laporan memang betul-betul membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran. Tentu saja dengan asumsi kita ingin membuat laporan yang bagus bukan sekedar laporan. Laporan ini sudah dalam tahap pengerjaan selama 2 minggu. Jadi dapat anda bayangkan betapa besar waktu, tenaga, dan pikiran yang telah kami curahkan untuk laporan ini. Harus bagus! Client harus puas! Setelah itu sebetulnya saya sudah penat. Tapi harus buka email dan browse Internet dulu. Eh, ternyata terbawa-bawa melihat koleksi artikel tentang progressive rock. Akhirnya saya memperbaharui buku tulisan saya tentang progressive rock (yang bisa diambil di budi.insan.co.id/books/classic-rock atau di budi.paume.itb.ac.id/books/classic-rock Now, I am really tired... Sun, 15 May 2005
Watching Numb3rs
I am not a math expert. In fact, during my undergrad years, I hated math. Schrodinger and Maxwell equations gave me nightmares! I did poorly in math. I did love math (and numbers) since I was a kid though. I am not sure what happened in those undergrad years. My grad years brought back the interest in math to me. So, now I am interested in math. Another thing I like about this TV show is that it introduces scientist to laymen (although, I am not sure who the viewers of the series are). We use to see lawyers, doctors, and military personnels. Now, it's time for scientists. But, not the kind of absent minded professors. The "regular" scientists. In the future, perhaps, engineers? |
Kategori khusus |
|||||||||