Budi Rahardjo Weblog
   


Selamat datang di blog saya

About
Blog BR yang berada di Kampus ITB

Subscribe
Subscribe to a syndicated feed of my weblog, brought to you by the wonders of RSS.

Links
Daftar link

  • GBT: Blog di luar kampus.

  • Powered by blosxom

           
    Tue, 02 Aug 2005

    Mengapa tidak ngotot berseteru
    Beberapa rekan mempertanyakan mengapa saya tidak ngotot untuk tetap berseteru dan mempertahankan pengelolaan domain .ID. Apakah tidak takut dikatakan kalah?

    Keputusan saya untuk mengundurkan diri dari pengelolaan .ID sebetulnya sudah saya sampaikan tahun lalu di acara NiCE 2004. Jadi ini bukan keputusan yang mendadak. Namun memang saya tidak mau berseteru meskipun setelah saya teliti dokumen-dokumen yang saya miliki (beserta ahli hukum saya), kemungkinan menang adalah antara 80% sampai dengan 90%.

    Ada dua hal penting yang mempengaruhi keputusan saya. Yang pertama adalah buku "Don't be sad" karangan Dr. 'Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA. Dalam buku ini banyak sekali mutiara yang disampaikan dengan cara yang menyentuh. Topik yang paling banyak saya baca adalah bagian tentang bersabar. Ternyata ini semua adalah ujian bagi saya untuk bersabar. Banyak contoh disampaikan di dalam buku tersebut mengenai kesabaran orang-orang besar. Meski mereka dihina (sangat menyakitkan), akan tetapi mereka tetap sabar dan cenderung memaafkan.

    "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripaa orang-orang yang bodoh." (al-A'raf [7]:199)

    "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah." (asy-Syura' [42]:40)

    Ada sebuah hadits, "Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam bertempur. Sesungguhnya orang yang kuat ialah orang yang bisa mengontrol dirinya ketika ia sedang marah."

    Sebagian orang mengatakan bahwa dalam Injil dikatakan, "Maafkanlah tujuh kali orang yang sekali berbuat salah kepadamu."

    Jadi sabar merupakan ujian terhadap diri saya sendiri. Untuk sementara ini saya merasa cukup berhasil. Saya menang terhadap diri saya sendiri. I won against myself. Mudah-mudahan bisa terus demikian.

    Hal kedua yang menyebabkan saya mengambil keputusan untuk bersabar dan berkesan mengalah adalah film "Hero" yang dibintangi oleh Jet Li yang saya tonton bolak balik di kereta api Argo Gede yang mengantarkan saya ke Jakarta dan kembali ke Bandung. Saya akan ceritakan bagian dari film ini yang menyentuh saya. (Maaf jika menceritakan beberapa bagian dari film ini, bagi yang belum menonton.)

    Dalam film ini dikisahkan para pendekar yang berjuang menurut keyakinan mereka. Dikisahkan para pendekar ini ingin membunuh raja Qin yang dikatakan lalim. Pada akhirnya ada seorang pendekar yang sadar bahwa raja Qin ini tidak boleh dibunuh demi kepentingan umat negara Cina. Sang pendekar ini mencoba meyakinkan rekan-rekannya akan hal tersebut. Akan tetapi banyak yang tidak mengerti. Akhirnya dua pendekar yang gagah perkasa mengerti.

    Untuk meyakinkan pendekar lainnya dan juga Raja Qin, mereka rela mati. Mereka sebetulnya dapat membunuh raja tersebut, dan secara teknis memang raja tersebut sudah mereka kalahkan. Akan tetapi mereka tidak mementingkan ego pribadinya agar terkenal. Mereka justru berkesan mengalah. Orang akan melihat mereka kalah. Akan tetapi, bagi mereka yang penting adalah pesan mereka sampai.

    Ada dua adegan dimana kedua pendekar itu mati yang sangat menyentuh hati saya (sampai mata basah). Salah satu pendekar rela mati ditangan kawannya untuk membuatnya mengerti. "Mengapa tidak kau tangkis pendangku?" tanya kawannya, yang terheran mengapa dia dibiarkan menusuk sang pendekar. "Karena mungkin ini adalah satu-satunya cara untuk membuatmu mengerti." Hanya untuk membuat pasangannya mengerti, dia rela mati. Sungguh suatu pengorbanan yang sangat besar. Demikian pula dengan satu pendekar lainnya. Dia menghadapi kematian dengan gagah berani. Saya ingin memiliki keteguhan hati dan kerendahan hati seperti mereka.

    Anda harus menonton film "Hero" ini untuk mengerti apa yang saya maksudkan sehingga mengerti mengapa saya melakukan hal ini; tidak mau konfrontasi.

    [] permanent link


       
    Kategori khusus

    IT
    ITB
    music
    Semua

    Ke situs utama di kampus