| Budi Rahardjo Weblog | |||||||||||
|
About
Subscribe
Links
|
Thu, 04 Aug 2005
Permasalahan Buku Teks di Indonesia
Sebagai dosen, saya perlu menceritakan permasalahan seputar pemilihan buku teks. Mestinya dosen-dosen yang lain juga memiliki permasalahan yang sama. Namun saya belum membaca diskusi mengenai hal ini. Baik. Saya mulai saja. Bahasa Indonesia vs Bahasa Inggris Ada banyak alasan yang menyebabkan buku teks berbahasa Inggris lebih menarik sehingga saya cenderung untuk menggunakan buku teks berbahasa Inggris. Akui saja. Buku teks dalam Bahasa Inggris pilihannya lebih banyak dan (saat ini) kualitasnya lebih bagus dari buku teks dalam Bahasa Indonesia (kalau ada). Jangan marah atau tersinggung. Mungkin di bidang anda berbeda dengan bisa saya. Dalam merancang kuliah, salah satu faktor yang saya perhatikan adalah bahwa mahasiswa saya akan berkompetisi dengan rekannya di luar negeri. Ada kemungkinan mereka akan melanjutkan sekolah (S2 dan S3) ke luar negeri, atau bekerja di luar negeri. Jika mereka menggunakan buku teks yang sama dengan yang digunakan oleh rekannya di luar negeri, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk berbaur. Saya mengalami hal ini. Buku teks yang digunakan ketika saya menjadi mahasiswa S1 di ITB ternyata banyak yang sama dengan buku teks yang digunakan di Canada waktu saya mengambil S2 dan S3. Hal ini ternyata mempermudah saya. Buku teks yang sudah lazim digunakan di luar negeri tersebut sudah teruji dengan baik (well tested) dan sudah dipikirkan masak-masak (dari sisi pengajarannya). Ada semacam jaminan bahwa akan lebih sukses jika menggunakan buku tersebut, dibandingkan buku yang belum pernah teruji. Namun penggunaan buku teks berbahasa Inggris ini memiliki banyak masalah. Masalah yang pertama adalah mahasiswa cenderung lebih suka menggunakan buku teks dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja karena kita hidup di Indonesia. Tetapi, kalau saya ingat-ingat, ketika dulu menjadi mahasiswa S1 pun, saya lebih menyukai buku teks dalam bahasa Inggris karena buku terjemahaan yang ada pada masa itu sangat kacau terjemahannya sehingga membingungkan. Sekarang mungkin sudah ada buku-buku terjemahaan dengan kualitas terjemahan yang memadai sehingga mahasiswa memburu buku terjemahan tersebut. Saya pernah mendapati mahasiswa saya menggunakan buku terjemahaan di kelas. Tidak apa-apa tentunya. Hanya, ini fenomena menarik bagi saya. Masalah kedua yang saya belum tahu solusinya adalah masalah HaKI. Buku-buku teks asli yang berbahasa Inggris harganya terlalu mahal bagi mahasiswa Indonesia. Belum banyak buku teks asli bahasa Inggris yang dicetak di Indonesia, seperti yang dilakukan di India, sehingga harganya bisa terjangkau. Hal ini menyebabkan hampir semua buku teks berbahasa Inggris merupakan hasil fotocopy. Tentu saja ini pelanggaran HaKI. Namun kita masih tutup mata dengan dalih bahwa ini untuk kepentingan pendidikan. Tidak semudah itu, Bung! Kita tidak bisa membiarkan hal seperti ini terus berkelanjutan. Lantas harus bagaimana? Saya memilih menggunakan buku teks dalam Bahasa Inggris. Pada saat yang sama, saya mulai membuat tulisan (materi presentasi, catatan, notes, diktat) untuk menggantikan buku teks tersebut. Namun yang ini perlu waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Selain itu, perlu selalu diingat mengapa membuat tulisan dalam bahasa Indonesia tersebut supaya tidak salah. Ingat bahwa harga buku yang mahal menjadi salah satu masalah. Jadi kalau buku yang kita tulis ternyata tidak terjangkau juga, percuma saja. Akan difotocopy juga. Salah sendiri. ... lain kali dilanjutkan kembali ... |
Kategori khusus |
|||||||||