| Budi Rahardjo Weblog | |||||||||||
|
About
Subscribe
Links
|
Fri, 02 Sep 2005
Kualitas SDM Indonesia?
Kebanyakan mahasiswa terlalu berkutet pada kuliah sehingga ketika lulus dia tidak mengerti hal-hal yang di luar kuliah. Tentu saja kalau baru lulus (fresh graduate), yang bersangkutan tidak punya pengalaman. Bukan itu yang saya maksud. Maksud saya, mahasiswa tersebut tidak menyempatkan diri untuk terlibat dalam hal-hal di luar kuliah, baik yang bersifat profesi maupun sosial. Mereka tidak mencoba ngoprek komputer sendiri. Contohnya, ketika ditanya bahasa pemrograman yang dikuasai, jawabannya adalah Pascal ketika masih kuliah. Okay, ada yang menjawab Delphi atau VB, tapi itu pun hanya untuk tugas kuliah. Dari sisi sosial, hampir tidak ada yang terlibat dalam kegiatan di lingkungannya. Tidak ada kepedulian. Tidak ada yang terlibat ngurusi RT dalam kegiatan vaksinasi, 17-Agustus-an, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Padahal masyarakat sangat mengharapkan adanya kontribusi mahasiswa. Mahasiswa kan semestinya masih punya idealisme. Mungkin masyarakat sekarang sudah tidak peduli (numb) dan tidak berharap banyak dari mahasiswa. Mereka melihat kondisi yang ada saat ini dan menyerah berharap. Bayangkan, berharap saja sudah menyerah. Atau, mungkin saja kebetulan saya tidak terlalu terekspos dengan kegiatan mahasiswa yang positif. Jika demikian, maafkan saya. Ketika saya tanya "apa prestasi anda atau karya anda yang bisa anda banggakan?", kebanyakan bengong. Tentu saja saya tidak mengharapkan mereka melakukan sesuatu yang sangat hebat - extra ordinary. Poin saya adalah, saya ingin mereka punya mimpi, kebanggaan, dan percaya diri bahwa mereka bisa berkarya dan bermanfaat. Untuk anda, para pembaca blog ini, apa karya anda atau prestasi anda yang bisa anda banggakan? Sebagai seorang pendidik (or at least, that's what I claimed to be), saya melihat kelemahan ini pada mahasiswa saya juga. Saya sudah berusaha mengungkap sisi lain dari sekedar kuliah saja kepada mahasiswa saya. Bahkan, saya mengajari mahasiswa saya untuk lebih baik mendapat nilai "B" dan bermanfaat bagi masyarakat daripada mendapat nilai "A" akan tetapi tidak manfaat bagi masyarakat. (Mudah-mudahan sekolah / perguruan tinggi tidak marah ke saya.) Salah satu alasan saya untuk menjadi dosen adalah adanya kesempatan untuk membentuk pola pikir mahasiswa (to shape these young minds). Nampaknya saya belum berhasil. Kemana masa depan Indonesia (dan dunia) akan dibawa? Maklum, saya berharap di masa tua nanti tumpuan saya (dan masyarakat?) adalah pada anak muda saat ini. Jika mereka tidak dibentuk saat ini, setelah dewasa akan lebih susah diubah. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Toh saya sendiri juga belum bisa menghasilkan SDM yang bisa dibanggakan. (If you're my student, make me proud by: bermanfaat bagi masyarakat.) Atau mungkin cara berpikir saya salah? Diambil dari: http://rahard.modblog.com/?show=blogview&blog_id=727502 |
Kategori khusus |
|||||||||