Budi Rahardjo Weblog
   


Selamat datang di blog saya

About
Blog BR yang berada di Kampus ITB

Subscribe
Subscribe to a syndicated feed of my weblog, brought to you by the wonders of RSS.

Links
Daftar link

  • GBT: Blog di luar kampus.

  • Powered by blosxom

           
    Tue, 24 Apr 2007

    Menggadaikan harga diri dosen dengan Rp 10.000,-

    Baru-baru ini ada program baru di ITB, yaitu adanya uang makan untuk dosen (dan karyawan?). Uang makan ini besarnya adalah Rp 10000,-/hari. Dia dapat diambil dengan cara mengisi daftar hadir. Saya tidak tahu dengan Anda, tapi bagi saya ada beberapa masalah dengan program ini.

    Masalah pertama adalah soal daftar hadir dosen. Wah, ini masalah yang sangat sakral di dunia perguruan tinggi. Entah sadar atau tidak, "big brother" is watching you. Saya tidak tahu apakah pemantauan dosen ini by design atau by accident? Mengapa harus mengisi daftar hadir?

    Saya masih berpendapat bahwa dosen itu bukan seperti pegawai harian yang kerja 9-to-5, tetapi kerja penuh. Daftar hadir harian hanya sekedar mencatat kerja di tempat saja. Bagaimana dengan kerja yang dilakukan malam hari? Di luar jam kerja? (Misalnya hari Minggu, hari libur, dan seterusnya.) Apakah memang dosen didesain untuk berhenti bekerja di luar jam kerja? Ini ..., lagi-lagi, seperti robot.

    Jika memang idenya adalah untuk memberikan uang makan, mengapat tidak diberikan uang makan begitu saja? Cara yang ada saat ini, memberikan uang makan dengan basis daftar hadir menurut saya sangat tidak efisien. Mencatat, mendata, memproses daftar hadir, mengasosiasikan dengan jumlah uangnya, mendistribusikan, dan seterusnya sangat repot. Ada dosen yang datang 15 hari, 16 hari, 17 hari, 18 hari, 19,5 hari (hah?), dan seterusnya. Bagaimana dengan yang tugas ke luar kota? Harus dibuatkan surat tugasnya, tanda tangan yang memberi tugas (Dekan?) kemudian surat ini diteruskan ke admin yang mengurusi uang makan. (Eh, apakah ada dosen yang mau ngurus surat seperti ini HANYA UNTUK Rp 10.000,-???) Dan seterusnya dan seterusnya. Waktu dan atensi dari staf terbuang hanya untuk mengurusi administratif Rp 10ribuan.

    Ada cara yang lebih elegan (dan lebih canggih - waaahhh) untuk mengimplementasikan hal ini. Misalnya, makan siang disediakan di kantin / kafetaria. Dosen datang ke sana dengan menggunakan kartu tanda pengenal (yang katanya akan menggunakan smartcard atau RFid). Proses administratif, pendataan, dan seterusnya sudah diotomatisasi. Tidak perlu menghabiskan sumber daya (resources) untuk hal-hal yang kecil seperi ini. Oh ya, metoda seperti ini sudah banyak dilakukan di beberapa perusahaan di Indonesia. Setidaknya, saya sudah pernah menggunakan cara ini ketika mengerjakan sebuah kerjaan di perusahan tersebut. Maksudnya, ini bukan impian di siang bolong.

    Ada hal lain lagi. Jumlahnya adalah Rp 10.000,-/hari. Ini serius? Atau dolanan. Maaf, apakah ada dosen ITB yang makan Rp 10.000,-/hari? Ya dananya hanya ada segitu, pak Budi. Kenapa pak Budi protes sih? Ya saya sih hanya ingin tahu saja. Kalau memang demikian ya memang demikian. Ya kalau memang harga dosen memang hanya segitu, ya penghargaannya memang segitu.

    Jadi ... kalau ingin memantau dosen, cukup lemparkan uang Rp 10.000,- saja.

    [/ITB] permanent link


       
    Kategori khusus

    IT
    ITB
    music
    Semua

    Ke situs utama di kampus