| Budi Rahardjo Weblog | |||||||||||
|
About
Subscribe
Links
|
Sun, 14 Jan 2007
Layanan Internet Indonesia
Situs blog-blog saya (kecual yang ini) hampir semuanya menggunakan layanan blog dari luar negeri. Blog saya yang populer rahard.wordpress.com menggunakan layanan dari luar negeri, demikian pula yang Mr. GBT. Waaahhh... Sebetulnya bukannya tidak ada penyedia layanan seperti itu di Indonesia. Hanya saja (1) belum terkenal, (2) tidak terkenal, (3) layanan buruk. Jadi, orang tetap lebih memilih layanan di luar negeri. Akibatnya ketergantungan kepada bandwidth luar negeri masih tetap besar. Nampaknya saya harus lebih sering menulis di blog ini ya? Mungkin blog ini harus saya perbaharui dengan software yang memiliki fitur untuk komentar. Ah, banyak sekali yang harus dikerjakan. Belum ada waktu nih ...
Masalah Updating Blogger
Ternyata update membutuhkan waktu yang cukup lama. Mungkin ini disebabkan saya sudah terlanjur banyak menulis blog di sana. Entahlah. Kalau hanya itu saja sih tidak masalah. Sekarang masalahnya adalah halaman agregator blog saya (PlanetGBT) menjadi kacau balau tampilannya. Ahhh... Tapi tidak apa-apa. Nanti kalau sudah ada tulisan blog yang lebih baru maka halaman tersebut akan terdesak ke bawah dan hilang dari tampilan. Jadi, banyak-banyak menulis saja? Ha ha ha. Thu, 19 Oct 2006
Lalu Lintas Internet Indonesia
Salah satu topik yang sering keluar dalam diskusi di berbagai milis dan pertemuan di darat adalah padatnya lalu lintas internet Indonesia yang ke luar negeri. Hampir semua pengguna Internet Indonesia memiliki alamat email yahoo atau gmail. Yahoo Messanger (YM) juga merupakan aplikasi yang paling populer di Indonesia. Padahal semua ini menggunakan jaringan ke luar negeri. Sebetulnya ada banyak layanan internet di Indonesia, akan tetapi layanan Indonesia ini kurang populer. Opini saya sih mengatakan bahwa layanan buatan Indonesia ini kurang populer karena dikelola asal jalan. Pengelola tidak memiliki obsesi seperti di luar sana. Kalau layanan down, dibiarkan lama. Kalau di luar negeri, pemberi layanan juga menggunakan layanan tersebut sehingga kalau layanan tidak berfungsi mereka ikut merasakannya. Eat your own dog food adalah istilah yang sering digunakan. Nah, dalam rangka menyemarakkan content dalam negeri yang menggunakan infrastruktur dalam negeri, maka saya mulai aktif kembali menghidupkan blog ini. Blog ini diletakkan di dalam kampus ITB. Mudah-mudahan aksesnya tidak terlalu lambat. Selamat menikmati. Thu, 12 Jan 2006Baru saja saya membaca artikel di Koran Tempo, Rabu, 11 Januari 2005, mengenai masalah ratusan pilot hengkang dari Garuda. Berikut ini cuplikannya.
Pemerintah menegur manajemen PT Garuda Indonesia agar memperhatikan masalah sumber daya manusia. Peringatan ini disampaikan karena sudah banyak pilot yang hengkang dari maskapai penerbangan pelat merah tersebut. Saya jadi ingat situasi di ITB yang tidak jauh berbeda. Ada beberapa dosen dan peneliti ITB yang ahirnya kabur ke luar negeri karena situasi di ITB/Indonesia yang tidak mendukung penelitian. Padahal, kita (Indonesia) sudah melakukan investasi di mereka dengan menyekolahkan ke luar negeri. Sekarang tinggal masanya panen. Eh, dibiarkan saja. Bahkan cenderung disia-sia. Sayang sekali hal ini dianggap remeh oleh sebagian besar orang. Biarin saja mereka kalau tidak mau di ITB. Emangnya ada tempat lain yang lebih bagus dari ITB? Sikap arogan seperti ini menurut saya kurang pantas. Justru seharusnya kita pro-aktif dalam melakukan rekrutmen orang-orang yang bagus dari ITB. Agak aneh kalau SDM tidak dilihat sebagai aset. Mungkin pengalaman dahulu, yang sudah-sudah, menunjukkan bahwa dosen bukan aset melainkan liability? Mon, 05 Dec 2005
Riset? Lebih baik di Singapura saja
Seperti sudah saya tuliskan di tempat lain, life sciences di Singapura nampaknya makin meningkat. Bahkan peneliti yang hebat pun lebih memilih Singapura daripada Amerika. Mungkin sudah saatnya para peneliti Indonesia bekerjasama dengan Singapura untuk meneliti di Singapura saja? Apa boleh buat. Daripada di Indonesia tidak menjadi apa-apa, lebih baik bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Lihat berita terkait di sini: http://tomorrow.sg/archives/2005/12/03/biologists_pick_singapore_two_to.html Tue, 01 Nov 2005
World University Rankings 2005
The Times Higher Education Supplement telah mengeluarkan sebuah dokumen yang berjudul "World University Rankings 2005." Dokumen tersebut bisa diperoleh di sini: http://www.thes.co.uk/worldrankings/. Sayangnya ITB tidak termasuk dalam daftar tersebut. Apakah ITB seharusnya masuk ke daftar tersebut? Akankah? (Silahkan komentar di blog saya yang di rahard.modblog.com. Atau lebih spesifik lagi di sini.) Sat, 22 Oct 2005
Mahasiswa kurang responsif (babak 2)
Saya tanya "ada yang tidak mengerti?", tidak ada yang menjawab atau mengacungkan tangan. Kemudian saya tanya "ada yang mengerti?", juga tidak ada yang mengacungkan tangan. Jadi sebetulnya mengerti atau tidak? Ada dosen lain yang mengatakan bahwa ketika dia masuk ke kelas, dia dihadapkan dengan pandangan mata yang kosong. Menerawang. Dia berpendapat bahwa sekarang mahasiswa inginnya serba instan. Lepas dari itu semua, ternyata masalahnya lebih dalam lagi karena tidak sekedar di kelas saya saja. Berarti ini masalah yang lebih besar! Aduh! Mengenai soal slides power point, sebetulnya saya tidak menyukainya karena slides tersebut seringkali gagal menjadi alat bantu. (Ada banyak sudah yang membahas hal ini. Saya memiliki beberapa URL yang membahas soal ini.) Dengan kata lain, sebaiknya mungkin tidak menggunakan slide lagi. Tapi, ada atau tidak ada slide power point, tetap perkuliahan hanya membuat mahasiswa mendengar dan melihat. Ini tidak cukup! Saya ambil kutipan dar A. S. Neil:
Jadi, saya berharap bahwa mahasiswa lebih banyak "DO". Melakukan. Mengerjakan tugas. Praktek. Khususnya dalam kuliah pemrograman, tentunya harus banyak DO-nya karena kalau tidak, hanya menjadi teori semata. Padahal aspek skill juga tidak kalah pentingnya.
Praktek. Ini juga ternyata masalah karena institusi sehebat ITB pun tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk programming. Di dalam kelas saya saja ada sekitar 65 orang. Padahal ini kelas paralel - 4 kelas. Jadi total kebutuhan komputer - hanya untuk kelas programming saya saja - sudah mencapai 260 komputer!
Nah, lagi-lagi ini menjadi keluhan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa kita terlalu cengeng, kalau saya bandingkan dengan mahasiswa di India dan China. Mereka (mahasiswa di India dan China) lebih miskin lagi dan fasilitas lebih tidak memadai. Tapi, toh mereka tetap menjadi world class juga dengan jumlah yang tidak sedikit. Artinya kekurangan fasilitas ini tidak membuat mereka gagal. Bahkan kekurangan ini lebih memacu mereka.
Saya masih ingat ketika belajar komputer saya harus membeli majalah bekas di jalan Cikapundung (di Bandung). Di sana banyak dijual majalah bekas yang halaman depannya sudah digunting. Sekarang, di toko buku sudah banyak majalah dan buku yang membahas masalah komputer. Kemudahan ini mungkin malah membuat mahasiswa menjadi lebih manja lagi?
Saya melihat bahwa mahasiswa kita kurang memiliki "sense of urgency". Tidak ada dorongan yang kuat. No passion. Mereka masih tidak melihat adanya ancaman dari lulusan sekolah lain, khususnya lulusan dari luar negeri. Mereka tidak tahu bahwa India menghasilkan 70 ribu lulusan yang terkait dengan IT setiap tahunnya. Ya benar, 70000! Lulusan ITB yang terkait dengan IT mungkin hanya 300-an setiap tahunnya. Dibutuhkan 200 ITB hanya untuk menghasilkan jumlah yang sama. Kita belum bicara mengenai kualitas.
Sense of urgency ini perlu ditumbuhkan. Mahasiswa harus tahu bahwa pekerjaan mereka bisa diambil oleh lulusan India! Serius! Beberapa waktu yang lalu saya mendengar dari seorang kawan yang mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan seorang lulusan perguruan tinggi di India yang mau dibayar Rp 700 ribu sebagai programmer di Indonesia. Mana ada lulusan kita yang mau dibayar segitu? Lebih jauh lagi, kualitas lulusan India yang murah tersebut seringkali lebih bagus. Perusahaan akan memilih orang India daripada orang setempat. Ini penting!
Ayo kita lebih serius!
Mahasiswa Kurang Responsif?
Saya tidak tahu apakah mereka tidak mengerti apa yang saya ajarkan atau hanya malas / malu menjawab saja. Hal-hal yang saya tanyakan adalah hal yang sederhana dalam pemrograman yang sepantasnya mudah mereka ketahui. Paling tidak, hal tersebut diketahui oleh mahasiswa universitas lain atau bahkan siswa SMK (STM) yang sedikit kursus pemrograman. Dugaan saya adalah mereka bingung dengan apa yang saya tanyakan. Artinya ini menyedihkan. Mereka tidak paham apa yang saya ajarkan. Waduh! Bagaimana mereka akan kompetisi dengan saingan mereka (lulusan India, misalnya)?
Bagaimana mengubah hal ini? Apakah teknik pengajaran saya perlu berubah? (Mungkin mahasiswanya terlalu banyak disuapi sehingga malas berusaha sendiri? Artinya saya harus lebih keras lagi terhadap mereka.) Atau memang kualitas mahasiswa menurun? Apakah dosen lain merasakan hal ini?
Teaching programming to EE students
We already decided that it's object oriented and C++ is going to be used as the language. Walter Savitch's "Problem Solving in C++" is the textbook. There were a lot of discussion before we came to that decision. Unfortunately, I didn't make notes (and am to lazy to write them down). Every year I re-think about it. (Perhaps, it's time to write the arguments down?) Here's an issue that came my mind recently.
High vs low-level programming
UML or higher level "coding." This is great, but I am afraid that my students would not understand low level coding. Remember that they are EE, engineers. They are not computer scientists. They may have to work with devices with low level programming, such as (micro)controllers and stuff. That's why we picked C++. It's not the best language to teach programming, but it can go to low level or high level.
I was looking at Michael Lynn's presentation (on Cisco IOS shellcode) the other day. (It was a huge fiasco.) Many parts of the description have codes in assembly language. Do I have to teach assembly language to my students? (Perhaps in a "core ware-like" game? Suggestion?) How many of you still play (work) with assembly language? Should I even bother? They'll learn it themselves. (Then, what's the purpose of me teaching them programming if they can learn it themselves?)
The most important thing is I have to teach them the logic of programming. BTW, how do I test logic? I want to know if they have the "foundation of programming," but not language-specific (or even paradigm-specific). Should I test them with pseudo code? Flow chart? Stories?
Anyway ... I wish I am allowed to teach programming with perl :
Say NO to APJII!
At the end of 1997, I went back to Indonesia from my studies and work in Canada. The .ID domain management in Indonesia at that time was in a confusing state. Nobody wanted to manage it. Universitas Indonesia (UI) - the original maintainer - was in a fight with APJII (the Association of Indonesian ISP).
In the end, IANA gave me a mandate to manage the .ID domain. Since then, I manage the .ID domain with open management. There are problems, but mostly minors.
Until recently, when APJII (again) is trying to take over the .ID domain management from my team. Here's a short info to give you a head start.
Short summary
APJII (the association of ISP in Indonesia) is trying to takeover the .ID domain management in Indonesia. They have tried and will try everything to take over.
Long description
I've been managing the .ID domain since the end of 1997. At that time, nobody wanted to run the domain management.
First of all, a brief description of how we run things. To run the .ID domain, I am assisted by several domain admins. Each of these domain admins is responsible for second level
domains. For example, there is a domain admin for AC.ID, then there is also a different domain admin for CO.ID, etc. These domain admins are volunteered based. (No ne get paid, except for the CO.ID admin who is also helping the day to day operation.) All of this was done informally. I am personally responsible for everything. We use "IDNIC" as the name of our operation.
There is a fee to register a domain, except for sch.id, go.id, and mil.id (which is allocated for schools, government, and military - they are free). Most of the domains are registered with one time fee, except for web.id which has a yearly fee. In the future we would like
to implement a yearly fee to make sure that there are no dead domains (domains that are not used at all). Billing was outsourced to APJII (the association of Indonesian ISP).
To serve the domain users better, we are now in the process of using registrar-registry, just like gTLDs. We would like to be the registry and stick with policy and backend. Whereas registrars are doing the business.
To implement this concept we have to formalized the organization. We decided to create a formal entity, which consists of all the domain admins (the de facto operational). This organization is a non-profit oriented. We are in the process of discussing the by-laws publicly (through open mailing list).
Now... the issues.
APJII (the associations of ISP) feels that they are being left out. They insisted that they should be part of the registry (AND registrar). They do not like the registrar-registry concept. So, they sent mails.
The next letter was a threat to sue me.
A couple of months ago, APJII have an election and new officials were announced. As part of the election process, they also have programme. To my disbelieve, one of the programme was to create an entity called IDNIC that manages IP numbers *AND* domain name. I have no doubt that they will send a letter to ICANN to redelegate that mandate to them. Since this is their internal organization issue, I could not (and would not) do anything. But I have to give you a warning.
A few days ago, they went to the Government and asked the Gov to support APJII (or they use the name ID-NIC) as the domain management in Indonesia. Now, I am pretty sure APJII will send an email to IANA/ICANN as well, asking for a redelegation to them.
Just to give everybody a head start.
Regards
Microsoft Research Center in Indonesia?
I am glad that the idea of open a research center in Indonesia was
brought up. I don't know who provided the information to our president,
but I am glad that our president was bold enough to put the idea forward.
First of all, this idea was not just came up one or two days ago.
We have thought about this for quite a few years.
In fact, in a presentation about BHTV
(Bandung High Tech Valley) in 2000 (and updated in 2001), I suggested
that we approach stable multinational tech companies to open their
research centers in Bandung.
(Presentation material is available in my web site at
budi.insan.co.id/presentations.
Search for the word "BHTV". If you can't find it, I'll mail it to you.)
Multinational companies are needed in a tech region (such as Silicon Valley
and their look-a-likes).
Wired Magazine
(in its July 2000 edition) did a survey of tech bility of area universities and research facilities to train skilled workers or develop new technologies
the presence of established companies and multinationals to provide expertise and economic stability
the population's entrepreneurial drive to start new ventures
the availability of venture capital to ensure that the ideas make it to market
regions in the world.
They ranked the regions based on these four criteria:
Bandung was not in Wired's list, but I tried to measure Bandung against
those criteria. We have most of them.
The only ingredient that's still missing is "the presence of established
companies and mutltinationals". I called these companies, the anchors!
The idea of Microsoft Research Center in Indonesia (hopefully in Bandung,
since I don't think it will be successful in other region)
is definitely inline with BHTV plan.
We won't stop with Microsoft. We'll go after other tech companies.
Perhaps those who are in Biotech too. Or, we can ressurect "Bell Labs"
in Indonesia?
I would like to put an emphasize in research center, not just
companies running business. It is good to have (established multinational)
companies running business in the region, but it is not very useful
since there's no market in Bandung itself (yet!).
But Bandung has a great pool of talents.
These research centers (companies) provide a buffer and place to work
for new graduates (from tech universities, such as ITB).
They are needed to shape these fresh talents.
I use the word "shape", since these research centers provide real world
high-tech culture (including work ethics) that are not given at universities.
They will mold the talents into world class work force.
This will benefit to the region and the world.
(It's difficult to find well rounded talents.)
Then, there's this question to answer:
Can Indonesia (let me selfishly point to Bandung) provide
the needed talents for these research centers?
My bold answer: Yes!
If not, I will work hard to provide you with the talents!
If you (established multinational tech companies) committ to it,
then I'll make sure I'll committ to it.
How so? Let me give you a recent example.
Recently, Google had a programming contest in Bangalore India.
They called it "Google Code Jam."
Do you know the winners of this event?
The first winner, an Indonesian.
The second winner, an Indonesian.
Then the third, an Indian.
I am not putting down Indians here. I have too many Indian friends
to know their quality (excellent!).
I just want to point out that we, Indonesians, are also good.
Given the opportunity, we will excel.
This is good for the (research) centers, by the way.
Another resistance came from people who are against Microsoft.
They are afraid that this movement will kill open source movement in Indonesia.
Well, let me assure you that open source initiatives (and of course
free software movement) will still thrive in Indonesia.
I consider myself to be an open source person (slightly slanted towards
free software actually), although I don't have the time to code myself.
(I still write [perl scripts] just for fun.)
We hope that there are other research centers, not just Microsoft.
Perhaps there's
Apple Research Center (Bandung is well know for its artists and creativity),
Intel Research Center
(we have a complete Microelectronics lab here in Institut Teknologi Bandung,
we have more than a dozen PhDs in Microelectronics),
IBM Research Center (big Banks in Indonesia may need special machine
from IBM),
Biotech research center (there are pharmaceutical companies / factories
in Bandung, and also Biotech research in ITB),
and many more ...
In short, I am happy that SBY has put forward the idea of Microsoft
Research Center in Indonesia to Bill Gates.
Let's make this happen. And let approach more companies...
Budi Rahardjo, a BHTV evangelist - http://budi.paume.itb.ac.id
Untuk mahasiswa: dari pada nganggur, kerja untuk Google
Google Summer of Code
This Summer, don't let your programming skills lie fallow...Use them for the greater good of Open Source Software and computer science! Google will provide a $4500 award to each student who successfully completes an open source project by the end of the Summer. (payment details can be found in FAQ)
By pairing applicants up with the proven wisdom and experience of established prominent open source organizations (listed below), we hope to make great software happen. If you can't come up with a great idea to submit, a number of our organizations have made idea lists available.
Selamat coding ...
Sharing Vision: Regulasi Cashless dan Regulasi Broadband
Regulasi pertama yang kami bahas adalah regulasi yang terkait dengan pembayaran
cashless, yaitu uang yang bentuknya bukan kertas (cash)
Kami mendapat tamu dari Bank Indonesia,
yaitu pak Muhammad Ishak yang menjelaskan prinsip-prinsip atau arahan yang
dipegang oleh BI.
Dalam presentasi ini saya baru mengetahui bahwa sebetulnya BI tidak
meng-encourage keberadaan kartu kredit, karena ini merupakan sebuah
kredit tanpa jaminan yang menimbulkan banyak masalah. Dan memang banyak masalah
yang terkait dengan kartu kredit. Bahkan saat ini ada beberapa usaha yang
fokus kepada penagihan (secara paksa). Ini tidak sesuai dengan etika Bangsa
Indonesia.
Namun dipahami bahwa alat pembayaran elektronik (dalam berbagai bentuk, seperti
kartu kredit, e-wallet, pulsa, dan sejenisnya) tidak dapat dihindari.
Bahkan, sebetulnya alternatif alat bayar ini bagus untuk mengurangi
ketergantungan kepada uang kertas yang ternyata mahal harganya.
Jadi secara prinsip, BI mendukung adanya cashless payment.
Regulasi kedua yang saya bahas adalah regulasi broadband.
Permasalahan yang kita hadapi adalah apakah memang broadband perlu diregulasi?
Pasalnya, keberadaan broadband memungkinkan layanan yang dulunya terpisah
(suara, data, dan broadcasting) disatukan dengan menggunakan layanan broadband.
Ketiga layanan tersebut dulunya diatur dalam aturan yang berbeda.
Yang menarik mengenai regulasi ini, konteks kata "regulasi" ternyata berbeda
antara Indonesia dan luar negeri. Kalau di Indonesia, regulasi ini bermakna
pembatasan (tidak boleh ini itu, yang boleh hanya ini / perusahaan ini).
Kalau di luar negeri, regulasi lebih ke arah mewajibkan penyedia jasa untuk
memberikan (menyediakan) layanan broadband kepada masyarakat.
Jadi ini sisi lain dari regulasi (yang nampaknya lebih pro kepada masyarakat).
Menarik bukan.
Kedua bahasan regulasi tersebut membuat saya puyeng..., karena ini
merupakan pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan.
(Biasanya regulator akan kembali ke saya untuk meminta masukan.
Wah, saya masih perlu banyak belajar.)
e-contract: bagaimana tanggung jawab pelaku usaha?
Ada beberapa permasalahan yang dibahas di sana. Masalah utama adalah
bagaimana agar konsumen tidak dirugikan dengan perjanjian baku dalam
transaksi elektronik. Sebetulnya kita sudah melakukan transaksi
elektronik ketika kita menggunakan layanan "Yahoo!", "Amazon", "eBay",
dan sejenisnya. Namun jarang diantara kita yang membaca kontrak
(terms of service) yang ada.
Biasanya kita tinggal "klik" saja. Kita tidak tahu bahwa ada klausul
yang mungkin merugikan kita.
Dalam hukum kita sebetulnya tidak boleh pemberi layanan (penjual barang)
melepaskan diri dengan pernyataan "barang yang sudah dibeli tidak dapat
ditukar/dikembalikan". Namun dalam dunia software dan layanan elektronik
sering kali kita temui hal-hal seperti itu.
Disclaimer di software hampir semuanya menyatakan tidak bertanggung
jawab bilamana ada kerusakan yang ditimbulkan akibat penggunaan software.
Atau klausul yang sejenisnya.
Bagaimana kita menyikapi hal ini? Sangat tidak bertanggung jawab bukan?
Masalah lain yang menjadi pembahasan juga adalah barang bukti elektronik.
Kalau yang ini sebetulnya RUU ITE yang tidak kunjung disetujui sampai
sekarang sudah membahasnya. Jadi memang RUU ITE ini sangat penting.
Sayang DPR saat ini malah mengembalikan RUU tersebut ke pemerintah (eksekutif).
Ada dua poin lagi yang dibahas. Tapi saya cukupkan dulu ceritanya.
Intinya, masalah hukum yang terkait dengan transaksi sudah mendapat
perhatian dari rekan-rekan yang menggeluti bidang hukum.
Ini harus terus didukung oleh rekan-rekan yang menggeluti teknologi.
Diambil dari blog saya di rahard.modblog.com
Pencarian Text Editor Yang Pas
Minggu lalu saya bertanya di milis teknologia tentang text editor yang
bagus untuk sistem operasi Microsoft Windows, khususnya untuk pemrograman.
Saya sudah terbiasa dengan text editor vi di sistem UNIX.
Di Windows pun saya pasang gvim, sebuah implementasi dari vi.
Gvim sebetulnya cukup bagi saya. Hanya ada beberapa hal yang membuat
saya agak sedikit kurang suka seperti antara lain, setingan fonts
tidak bisa permanen (tidak ada menu preference meskipun mestinya ini
bisa diset di sebuah berkas), tidak bisa multi file dengan menggunakan
tab (gara-gara firefox, saya jadi keranjingan tab).
Milis kemudian menyarankan untuk menggunakan "cream+vim", "pspad".
Tentu saja saya download keduanya.
Cream ternyata hanya interface tambahan di atas vim. Sayangnya ketika
saya coba perintah-perintah yang ada di editor menjadi tidak vi-friendly
lagi. Saya belum tahu cara memanggil "ex-commands" dengan tanda
titik dua (:).
Pspad sudah saya pasang, tapi masih dalam proses coba-coba sehingga
belum ada yang bisa saya ceritakan.
Pas saya baca majalah IEEE Software (March/April 2005), ternyata ada
artikel yang berjudul "Dear Editor" yang ditulis oleh sebuah program.
Maksudnya pura-puranya sebuah program menulis kepada text editor.
Lucu juga. Program ini menyarankan adanya fitur-fitur tertentu di text
editor, dan juga menyarankan dihapuskannya fitur tertentu. Fitur yang
disarankan dihapuskan adalah automatic formatting. Ternyata ini membuat
programmer jadi malas untuk mengerti. Bahkan ada Java programmer yang
tidak tahu bagaimana struktur (formatting) yang bagus karena semuanya
sudah dilakukan oleh sang editor.
Ternyata masalah text editor bisa jadi cerita panjang ya.
Kendali Mutu Layanan Konsultasi ITB
Ada kejadian sebuah proyek bernilai Rp xyz juta. Setelah diberi panjer
Rp yz juga, sang dosen tidak muncul lagi. Wah, wah. Memalukan.
Hal-hal semacam ini membuat kami sulit untuk memberikan layanan kepada
pihak lain.
Ini harus berubah! Kualitas harus dipantau dan dikendalikan.
Jika kita (dosen) memberikan komitmen melakukan pekerjaan, maka komitmen
itu harus dijunjung tinggi. Dari sejak awal kita harus memprediski
penggunaan waktu (dengan project management) sehingga layanan
dapat diberikan secara prima dan tanggung jawab di kampus (mengajar,
membimbing, dan meneliti) tidak tertinggal.
|
Kategori khusus |
|||||||||