| Budi Rahardjo Weblog | |||||||||||
|
About
Subscribe
Links
|
Fri, 18 May 2007 Apa alasan dibentuknya sebuah program studi? Saat ini sedang ada diskusi mengenai program studi baru di fakultas atau school kami. Banyak usulan yang muncul, akan tetapi nampaknya sang penggagas kurang memahami mengapa program studi tersebut perlu dibuat. Kebanyakan yang saya lihat, program studi disusun karena interest (kesenangan, minat) dari dosen sang penggagas. Dia tidak melihat adanya kebutuhan di industri atau lapangan pekerjaan dari lulusan program studi tersebut? Bukankah semestinya para stakeholder juga dilibatkan dalam pengembangan ini? Siapakah stakeholder ini? Usulan agar lulusan membuat lapangan pekerjaan sendiri juga baik, namun ini jangan hanya sekedar di mulut saja. Jika memang ini yang diusulkan, harus diprogramkan juga. Mana programnya? Perlu diingat bahwa entrepreneurship itu bukan sesuatu yang mudah. Tidak banyak orang yang berjiwa entrepreneur dan memang tidak semua orang harus jadi entrepreneur. Ada lagi penggagas yang mengambil contoh dari luar negeri, tetapi lupa menyesuaikannya dengan kondisi di Indonesia. Adakah kekhasan atau kekuatan dari Indonesia? Bagaimana dengan kelemahan? Kita tidak harus sama persis dengan di luar negeri. Bahkan, justru keunikan kita ini yang menjadi daya tarik. Sebetulnya apa yang Anda inginkan dari lulusan program studi tersebut? Mereka sebagai tukang? Pekerja? Agen perubahan? Atau apa? Sekadar paham sebuah ilmu saja tidak cukup. Mudah-mudahan kami, kita, Anda tidak salah langkah dalam membuat program studi sehingga menyesatkan banyak pihak, khususnya mahasiswa. Tue, 24 Apr 2007
Menggadaikan harga diri dosen dengan Rp 10.000,-
Baru-baru ini ada program baru di ITB, yaitu adanya uang makan untuk dosen (dan karyawan?). Uang makan ini besarnya adalah Rp 10000,-/hari. Dia dapat diambil dengan cara mengisi daftar hadir. Saya tidak tahu dengan Anda, tapi bagi saya ada beberapa masalah dengan program ini. Masalah pertama adalah soal daftar hadir dosen. Wah, ini masalah yang sangat sakral di dunia perguruan tinggi. Entah sadar atau tidak, "big brother" is watching you. Saya tidak tahu apakah pemantauan dosen ini by design atau by accident? Mengapa harus mengisi daftar hadir? Saya masih berpendapat bahwa dosen itu bukan seperti pegawai harian yang kerja 9-to-5, tetapi kerja penuh. Daftar hadir harian hanya sekedar mencatat kerja di tempat saja. Bagaimana dengan kerja yang dilakukan malam hari? Di luar jam kerja? (Misalnya hari Minggu, hari libur, dan seterusnya.) Apakah memang dosen didesain untuk berhenti bekerja di luar jam kerja? Ini ..., lagi-lagi, seperti robot. Jika memang idenya adalah untuk memberikan uang makan, mengapat tidak diberikan uang makan begitu saja? Cara yang ada saat ini, memberikan uang makan dengan basis daftar hadir menurut saya sangat tidak efisien. Mencatat, mendata, memproses daftar hadir, mengasosiasikan dengan jumlah uangnya, mendistribusikan, dan seterusnya sangat repot. Ada dosen yang datang 15 hari, 16 hari, 17 hari, 18 hari, 19,5 hari (hah?), dan seterusnya. Bagaimana dengan yang tugas ke luar kota? Harus dibuatkan surat tugasnya, tanda tangan yang memberi tugas (Dekan?) kemudian surat ini diteruskan ke admin yang mengurusi uang makan. (Eh, apakah ada dosen yang mau ngurus surat seperti ini HANYA UNTUK Rp 10.000,-???) Dan seterusnya dan seterusnya. Waktu dan atensi dari staf terbuang hanya untuk mengurusi administratif Rp 10ribuan. Ada cara yang lebih elegan (dan lebih canggih - waaahhh) untuk mengimplementasikan hal ini. Misalnya, makan siang disediakan di kantin / kafetaria. Dosen datang ke sana dengan menggunakan kartu tanda pengenal (yang katanya akan menggunakan smartcard atau RFid). Proses administratif, pendataan, dan seterusnya sudah diotomatisasi. Tidak perlu menghabiskan sumber daya (resources) untuk hal-hal yang kecil seperi ini. Oh ya, metoda seperti ini sudah banyak dilakukan di beberapa perusahaan di Indonesia. Setidaknya, saya sudah pernah menggunakan cara ini ketika mengerjakan sebuah kerjaan di perusahan tersebut. Maksudnya, ini bukan impian di siang bolong. Ada hal lain lagi. Jumlahnya adalah Rp 10.000,-/hari. Ini serius? Atau dolanan. Maaf, apakah ada dosen ITB yang makan Rp 10.000,-/hari? Ya dananya hanya ada segitu, pak Budi. Kenapa pak Budi protes sih? Ya saya sih hanya ingin tahu saja. Kalau memang demikian ya memang demikian. Ya kalau memang harga dosen memang hanya segitu, ya penghargaannya memang segitu. Jadi ... kalau ingin memantau dosen, cukup lemparkan uang Rp 10.000,- saja. Thu, 12 Jan 2006Baru saja saya membaca artikel di Koran Tempo, Rabu, 11 Januari 2005, mengenai masalah ratusan pilot hengkang dari Garuda. Berikut ini cuplikannya.
Pemerintah menegur manajemen PT Garuda Indonesia agar memperhatikan masalah sumber daya manusia. Peringatan ini disampaikan karena sudah banyak pilot yang hengkang dari maskapai penerbangan pelat merah tersebut. Saya jadi ingat situasi di ITB yang tidak jauh berbeda. Ada beberapa dosen dan peneliti ITB yang ahirnya kabur ke luar negeri karena situasi di ITB/Indonesia yang tidak mendukung penelitian. Padahal, kita (Indonesia) sudah melakukan investasi di mereka dengan menyekolahkan ke luar negeri. Sekarang tinggal masanya panen. Eh, dibiarkan saja. Bahkan cenderung disia-sia. Sayang sekali hal ini dianggap remeh oleh sebagian besar orang. Biarin saja mereka kalau tidak mau di ITB. Emangnya ada tempat lain yang lebih bagus dari ITB? Sikap arogan seperti ini menurut saya kurang pantas. Justru seharusnya kita pro-aktif dalam melakukan rekrutmen orang-orang yang bagus dari ITB. Agak aneh kalau SDM tidak dilihat sebagai aset. Mungkin pengalaman dahulu, yang sudah-sudah, menunjukkan bahwa dosen bukan aset melainkan liability? Mon, 05 Dec 2005
Riset? Lebih baik di Singapura saja
Seperti sudah saya tuliskan di tempat lain, life sciences di Singapura nampaknya makin meningkat. Bahkan peneliti yang hebat pun lebih memilih Singapura daripada Amerika. Mungkin sudah saatnya para peneliti Indonesia bekerjasama dengan Singapura untuk meneliti di Singapura saja? Apa boleh buat. Daripada di Indonesia tidak menjadi apa-apa, lebih baik bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Lihat berita terkait di sini: http://tomorrow.sg/archives/2005/12/03/biologists_pick_singapore_two_to.html Tue, 01 Nov 2005
World University Rankings 2005
The Times Higher Education Supplement telah mengeluarkan sebuah dokumen yang berjudul "World University Rankings 2005." Dokumen tersebut bisa diperoleh di sini: http://www.thes.co.uk/worldrankings/. Sayangnya ITB tidak termasuk dalam daftar tersebut. Apakah ITB seharusnya masuk ke daftar tersebut? Akankah? (Silahkan komentar di blog saya yang di rahard.modblog.com. Atau lebih spesifik lagi di sini.) Sat, 22 Oct 2005
Mahasiswa kurang responsif (babak 2)
Saya tanya "ada yang tidak mengerti?", tidak ada yang menjawab atau mengacungkan tangan. Kemudian saya tanya "ada yang mengerti?", juga tidak ada yang mengacungkan tangan. Jadi sebetulnya mengerti atau tidak? Ada dosen lain yang mengatakan bahwa ketika dia masuk ke kelas, dia dihadapkan dengan pandangan mata yang kosong. Menerawang. Dia berpendapat bahwa sekarang mahasiswa inginnya serba instan. Lepas dari itu semua, ternyata masalahnya lebih dalam lagi karena tidak sekedar di kelas saya saja. Berarti ini masalah yang lebih besar! Aduh! Mengenai soal slides power point, sebetulnya saya tidak menyukainya karena slides tersebut seringkali gagal menjadi alat bantu. (Ada banyak sudah yang membahas hal ini. Saya memiliki beberapa URL yang membahas soal ini.) Dengan kata lain, sebaiknya mungkin tidak menggunakan slide lagi. Tapi, ada atau tidak ada slide power point, tetap perkuliahan hanya membuat mahasiswa mendengar dan melihat. Ini tidak cukup! Saya ambil kutipan dar A. S. Neil:
Jadi, saya berharap bahwa mahasiswa lebih banyak "DO". Melakukan. Mengerjakan tugas. Praktek. Khususnya dalam kuliah pemrograman, tentunya harus banyak DO-nya karena kalau tidak, hanya menjadi teori semata. Padahal aspek skill juga tidak kalah pentingnya.
Praktek. Ini juga ternyata masalah karena institusi sehebat ITB pun tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk programming. Di dalam kelas saya saja ada sekitar 65 orang. Padahal ini kelas paralel - 4 kelas. Jadi total kebutuhan komputer - hanya untuk kelas programming saya saja - sudah mencapai 260 komputer!
Nah, lagi-lagi ini menjadi keluhan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa kita terlalu cengeng, kalau saya bandingkan dengan mahasiswa di India dan China. Mereka (mahasiswa di India dan China) lebih miskin lagi dan fasilitas lebih tidak memadai. Tapi, toh mereka tetap menjadi world class juga dengan jumlah yang tidak sedikit. Artinya kekurangan fasilitas ini tidak membuat mereka gagal. Bahkan kekurangan ini lebih memacu mereka.
Saya masih ingat ketika belajar komputer saya harus membeli majalah bekas di jalan Cikapundung (di Bandung). Di sana banyak dijual majalah bekas yang halaman depannya sudah digunting. Sekarang, di toko buku sudah banyak majalah dan buku yang membahas masalah komputer. Kemudahan ini mungkin malah membuat mahasiswa menjadi lebih manja lagi?
Saya melihat bahwa mahasiswa kita kurang memiliki "sense of urgency". Tidak ada dorongan yang kuat. No passion. Mereka masih tidak melihat adanya ancaman dari lulusan sekolah lain, khususnya lulusan dari luar negeri. Mereka tidak tahu bahwa India menghasilkan 70 ribu lulusan yang terkait dengan IT setiap tahunnya. Ya benar, 70000! Lulusan ITB yang terkait dengan IT mungkin hanya 300-an setiap tahunnya. Dibutuhkan 200 ITB hanya untuk menghasilkan jumlah yang sama. Kita belum bicara mengenai kualitas.
Sense of urgency ini perlu ditumbuhkan. Mahasiswa harus tahu bahwa pekerjaan mereka bisa diambil oleh lulusan India! Serius! Beberapa waktu yang lalu saya mendengar dari seorang kawan yang mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan seorang lulusan perguruan tinggi di India yang mau dibayar Rp 700 ribu sebagai programmer di Indonesia. Mana ada lulusan kita yang mau dibayar segitu? Lebih jauh lagi, kualitas lulusan India yang murah tersebut seringkali lebih bagus. Perusahaan akan memilih orang India daripada orang setempat. Ini penting!
Ayo kita lebih serius!
Mahasiswa Kurang Responsif?
Saya tidak tahu apakah mereka tidak mengerti apa yang saya ajarkan atau hanya malas / malu menjawab saja. Hal-hal yang saya tanyakan adalah hal yang sederhana dalam pemrograman yang sepantasnya mudah mereka ketahui. Paling tidak, hal tersebut diketahui oleh mahasiswa universitas lain atau bahkan siswa SMK (STM) yang sedikit kursus pemrograman. Dugaan saya adalah mereka bingung dengan apa yang saya tanyakan. Artinya ini menyedihkan. Mereka tidak paham apa yang saya ajarkan. Waduh! Bagaimana mereka akan kompetisi dengan saingan mereka (lulusan India, misalnya)?
Bagaimana mengubah hal ini? Apakah teknik pengajaran saya perlu berubah? (Mungkin mahasiswanya terlalu banyak disuapi sehingga malas berusaha sendiri? Artinya saya harus lebih keras lagi terhadap mereka.) Atau memang kualitas mahasiswa menurun? Apakah dosen lain merasakan hal ini?
Kendali Mutu Layanan Konsultasi ITB
Ada kejadian sebuah proyek bernilai Rp xyz juta. Setelah diberi panjer
Rp yz juga, sang dosen tidak muncul lagi. Wah, wah. Memalukan.
Hal-hal semacam ini membuat kami sulit untuk memberikan layanan kepada
pihak lain.
Ini harus berubah! Kualitas harus dipantau dan dikendalikan.
Jika kita (dosen) memberikan komitmen melakukan pekerjaan, maka komitmen
itu harus dijunjung tinggi. Dari sejak awal kita harus memprediski
penggunaan waktu (dengan project management) sehingga layanan
dapat diberikan secara prima dan tanggung jawab di kampus (mengajar,
membimbing, dan meneliti) tidak tertinggal.
|
Kategori khusus |
|||||||||